Music ReviewUncategorized

Oye, Adelante!: Menjajal Si Kidal (yang ternyata) Tetap Pejal

Sore, bagi sebagian orang adalah sebuah representasi dari “indo pop / rock revival” yang sakral. Sebagaimana yang almarhum Denny Sakrie katakan dalam blognya, “mereka bukan lagi band yang bergenit-genit dengan sound retro. Tapi mereka menguak, mengais dan menyusun ulang paradigma dan sound masa lalu, menjadi suguhan yang lebih kontemporer. Hingga idiom linguistik era Van Opusyen pada departemen lirik, bukan lagi J.S Badudu.”

Tapi, sebagian lainnya mengatakan mereka sebagai—sekelompok penikmat Beatles yang akhirnya memutuskan untuk membentuk sebuah band. Tentu tidak ada yang salah dengan pernyataan tersebut, bisa jadi, ia yang mengatakan hal tersebut hanya kurang khusyuk menyimak Centralismo dan Ports Of Lima. Atau ia luput membedakan mana Sore mana G-Pluck, band cover Beatles yang digawangi oleh Awan Garnida yang juga bermain bas untuk Sore. Saya sendiri lebih nyaman menyebut mereka Indonesiana—band sebuah istilah yang mereka ciptakan sendiri dalam beberapa kesempatan wawancara.

Oye, Adelante! sendiri nerupakan suguhan showcase spesial dari Sore pada Sabtu (29/6) lalu di Institute Francais (IFI), Jalan Purnawarman 32 Bandung. Bagi saya, ini merupakan showcase intim mereka yang kedua di Bandung, di luar penampilan mereka di beberapa festival atau pensi. Terlebih gelaran kemarin adalah konser tunggal, yang juga berbarengan dengan pesta perilisan EP terbaru mereka yang bertajuk Mevrouw.

Sebenarnya, jadwal open gate sendiri cukup ngaret, hampir dua jam, jika berpatokan  pada informasi yang tertera di e-flyer. Nyatanya, hal itu tidak menyurutkan niat penonton yang hadir untuk menyaksikan Sore malam itu. Setidaknya bagi saya. Terlebih, sudah terlalu lama mereka tidak manggung secara intim (baca: konser tunggal) seperti kemarin di Bandung.

Pada penampilannya kali ini, Awan Garnida (bas, vokal), Ade Paloh (gitar, vokal, trompet), Reza Dwiputranto (gitar, vokal) dan Bemby Gusti (vokal, drum) tidak tampil sendiri, mereka juga turut mengundang beberapa kolaborator. Beberapa di antaranya memang terlibat dalam album Mevrouw seperti Aqi Singgih (Alexa), Audrey Singgih, dan Vira Talisa. Tak lupa juga Karaeng Adji (Polka Wars).

Adapun band yang didapuk sebagai pembuka malam itu adalah Alvin & I, unit pop-folk muda asal Jatinangor yang tampil dengan sangat baik, namun sedikit malu-malu berinteraksi dengan penonton. “Kalut” dan “Sastra Suara” yang menjadi lagu penutup mereka, cukup mencuri perhatian. Nomor yang padat dan juga menyenangkan saat mereka mainkan secara langsung.

Menjajal Si Kidal yang Tetap Pejal

Showcase pekan lalu, membuat saya menyusur banyak ingatan. Kehadiran mereka di Bandung dengan format intim mungkin tidak hanya satu atau dua kali. Namun, format konser kemarin adalah satu dari banyak penampilan mereka paling prima yang pernah saya saksikan. Setidaknya, dalam catatan pribadi saya, penampilan mereka yang paling menyenangkan adalah Sore di Hutan (2017), Focal Point (2015), kemudian lebih jauh lagi ada Provoke! Fest (2014).

Menyaksikan penampilan Sore, bagi saya, selalu bicara tentang hal yang ‘lampau’. Entah bagaimana, suasana atau visualisasi dari musik yang mereka mainkan selalu hadir dalam bentuk demikian. Terlebih, mereka adalah band dengan materi musik yang sangat sinematik.

Hampir dalam beberapa kesempatan, termasuk showcase kemarin, mereka membuka penampilan dengan “Bebas”. Salah satu lagu mereka yang paling up-beat di album Centralismo. Tak perlu menunggu lama, koor masal hadir bersahutan dari penonton. Lagu ini juga merupakan salah satu lagu yang paling tepat jika kalian ingin melihat permainan drum yang begitu powerfull dari Bemby Gusti.

Meski showcase kemarin juga merupakan peluncuran EP Mevrouw, namun banyak materi-materi lama dari Centralismo dan Ports Of Lima masuk dalam setlist. “Mata Berdebu” menjadi lagu kedua yang dimainkan. Lagu dengan alunan intro french horn yang menenangkan ini, merupakan salah satu nomor terbaik milik mereka. Lagu ini merupakan salah satu artefak terbaik era Mondo yang menyisipkan sample melodi dari lagu “Gymnopedie no 1” dari komponis klasik, Erik Satie pada bagian interlude. Malam itu, apresiasi juga patut di berikan pada duo Compadres Music, Adhi Rahman (keyboard/synth) dan Vina Angelina (keyboard) yang mengisi ruang-ruang kosong di nomor klasik yang ditinggalkan Mondo Gascarro.

Ada satu kutipan dari rilis pers mereka saat Los Skut Leboys diluncurkan: tetap kidal dan pejal. Hal itu mereka buktikan lewat materi-materi di dalamnya, salah duaya adalah “R14” dan “Map Biru” yang juga masuk setlist pada malam itu. Los Skut Leboys sendiri merupakan album transisi yang cukup unik.

Sepeninggal Mondo, banyak orang meragukan album ini akan se-sukses dua album pendahulunya. Namun, hal tersebut terpatahkan melalui materi-materi dalam album ini. Jika dahulu mereka terlalu asyik sendiri dengan banyak ragam komposisi yang ‘grande’, pada Los Skut Leboys ini Sore terdengar jauh lebih lugas, minimalis dan pas. Sayangnya malam itu “Fiksinesia”, “Pop Drama” tidak mereka bawakan.

Menariknya, “Come By Sanjurou” dan “In The 1997 The Bullet Was Shy” mereka hadirkan secara live. Lagu yang jarang sekali mereka bawakan. Jika biasanya penampilan mereka selalu menyisakan celah pada vokal Ade, yang pada beberapa kesempatan selalu ‘keteteran’, lain halnya dengan malam kemarin. Boleh di bilang, penampilan mereka Minggu lalu adalah salah satu penampilan live mereka paling prima. Setlist ciamik, penampilan enerjik, yang terpenting tetap kidal dan pejal!

Beberapa lagu baru yang menjadi highlight malam itu adalah “Ode Usia” yang dibawakan langsung bersama Audrey Singgih, serta “Avenue” yang seharusnya menghadirkan Angeeta Sentana (Grrrl Gang) dan “Woo..Woo” minus Leana Rachel yang tidak dapat hadir. Sejujurnya, EP Mevrouw  hadir cukup mengejutkan, sejak pertama kali mereka merilis “Rubber Song” bersama Vira Talisa, rasanya kurang menarik perhatian. Karena selera saya mentok di Los Skut Leboys. Namun hal tersebut berubah, ketika menyaksikan penampilan mereka secara live. Mevrouw sendiri pada akhirnya, bagi saya adalah sebuah album yang patut dinantikan dan dinikmati secara langsung, bukan dalam rotasi cakram padat. Suasananya terasa sangat berbeda.

Total 24 lagu dengan “Somos Libres” sebagai encore mereka mereka hadirkan pekan kemarin. Dari mulai “Essensimo”, “Musim Hujan”, “Setengah Lima” hingga “Senyum Dari Selatan” hadir melantun seiring sahut-sahutan penonton di setiap lagunya. Jika melihat demografi penonton yang hadir, jelas malam itu milik mereka penikmat era Centralismo dan Ports Of Lima. Tak sedikit juga mereka yang hadir adalah keluarga muda yang turut membawa serta buah hati mereka. Apa pun itu, dari beberapa mereka yang hadir, dan sempat bertegur sapa sesudah acara di selesai semuanya sepakat dengan hal yang sama : hadir tanpa harapan berlebih, dan pulang dengan begitu berkesan. Karena rindu yang teramat besar menyaksikan Sorezeband kembali ke Kota Kembang.

Tags
Show More

Related Articles

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker
%d bloggers like this: