Stage Review

SENYAWA : DASAWARSA PERTAMA. PENGALAMAN TRANSEDENSIAL DAN MAGIS

Malam itu Bandung baru saja diguyur hujan di beberapa titik. Saya yang baru saja pulang dari tempat saya bekerja sedikit menimang, pukul berapa saya akan menuju Selasar Sunaryo, tempat diadakannya sebuah gelaran yang cukup langka untuk bisa disaksikan, tepatnya pada Sabtu (18/01/2020) lalu. 

Ternyata prediksi saya untuk segera sampai di daerah Dago Atas sedikit salah. Saya baru bisa hadir di sana tepat ketika A Stone A, band Noise/Art Rock/Experimental yang digawangi oleh Mufti Priyanka (Amenkcoy), Erwin Windu Pranata dan M. Akbar, band yang beberapa waktu yang lalu sempat hiatus karena ditinggal salah satu personel dan foundernya yakni Andry Moch (alm). Mereka akhirnya turun gunung kembali dan didaulat sebagai opening act menemani Senyawa yang pada malam itu didaulat sebagai sang empunya acara.

Saya sampai di Selasar Sunaryo tepat pada pukul 20.00 WIB. Suasana di luar venue terlihat agak sepi. Hanya saja ada perasaan–perasaan aneh seperti hendak ikut ke dalam sebuah acara pengukuhan sekte tertentu. Saya masuk ke venue tepat saat M. Akbar baru saja menyelesaikan setnya. Dari apa yang saya lihat-lihat, setelah acara selesai saya melewatkan momen di mana Erwin memainkan sebuah alat musik dari sapu ijuk, ya lalu lintas Dago Atas yang padat di setiap weekend khususnya di Sabtu malam memang cukup mengganggu akhir-akhir ini, yang kadang membuat saya enggan untuk pergi ke daerah kota saat weekend tiba.

Tak berselang lama, Amenk dan Erwin kembali berdiri di atas set nya. Amenk menggunakan jubah hitam, sedangkan Erwin berkalungkan keyboard portable di belakangnya. Lalu musik pun dimulai, segera Amenk membacakan sebuah cerita muda-mudi yang panas membara. Sedangkan Erwin menulis puisi di belakangnya. Sebuah performance art yang cukup membuat saya kagum dan bergeleng-geleng. Sayang hanya satu performance itu saja yang sempat saya rekam dalam kepala, berharap esok ada kesempatan lagi untuk menonton kembali A Stone A dengan set yang lengkap dari awal hingga akhir.

Tepat pukul 20.15 WIB, set A Stone A berakhir. Saya lekas beranjak menuju pendopo. Saya penasaran dengan alat yang dibuat oleh Mas Wukir Suryadi sehingga saya ingin melihatnya dari dekat. Dari apa yang saya baca, soal bagaimana Senyawa adalah band yang harus dilihat performancenya, saya harap-harap cemas apakah konser malam ini akan berakhir dengan senyuman? Namun dari pengalaman saya terdahulu saat menonton band Mas Rully Shabara di  Zoo. Tepatnya ketika bermaini IFI dalam gelaran Netlabel Audio Festival tahun 2014 silam, membuat saya yakin bahwa datang dan hadir serta menonton Senyawa adalah keputusan tepat yang telah saya lakukan.

Dupa telah dinyalakan, sesajen sebagai penghormatan kepada alam dan syukur kepada Dewa Dewi pun sudah ditaruh tepat di atas panggung. Malam ini menjadi malam yang sakral laksana Upacara Penyambutan mereka secara “resmi” di Bandung akan segera dimulai. Memang secara catatan historis ini adalah kali kedua Senyawa bertandang ke Bandung, setelah sebelumnya pada tahun 2011 mereka datang bersama dengan Terbujurkaku dalam sebuah Tur Residensi Experimental bernama Tur Singa dan Malaikat di Common Room yang legendaris itu dengan seorang Artist dari Amerika bernama Arrington de Dionsyo.

copyrighr : insankamil_

Set yang sederhana, tata lampu dan sound yang baik juga permainan asap yang tidak berlebihan membuat suasana menjadi semakin magis. Senyawa memulai set dengan menyanyikan “Terbaktilah Tanah Ini (Blessed Is This Land)” yang diambil dari track pertama album Sujud yang rilis pada tahun 2018 silam. Yang mana mendapatkan nilai 7,8 dari Pitchfork dan melabeli album ini sebagai album yang harus didengar karena mereka berani untuk bermain dengan suara-suara yang unfamiliar–hasil dari semua alat musik yang khusus diciptakan oleh  Wukir Suryadi. Di mana dalam pengaplikasiannya dalam satu alat musik bisa menghasilkan berbagai macam suara ditambah dengan permainan olah vokal oleh Rully Shabara. 

Ia bisa menggeram, bernyanyi dengan anggun, atau dengan gagah pun ia bisa membuat suara lengkingan tinggi, akan tetapi tidak menyakitkan di telinga. Berturut-turut Senyawa membawakan Air, Hadirlah Suci, Tanggalkan Di Dunia (Under The World) yang dibawakan tanpa cela. Bahkan pada lagu Tanggalkan Di Dunia, saya menggumamkan lirik “tanggalkan lah segala di dunia, tanggalkan lah segala di dunia” berulang-ulang dan membawa saya mengalami sebuah pengalaman yang tidak pernah terlupakan bahwa musik dapat membawa saya memasuki sebuah pengalaman baru yang akan susah saya ulang.

Bukti bahwa band ini adalah band yang penuh dengan pengalaman dan ilmu, juga hasil dari kerja keras untuk menghasilkan karya yang baik. Senyawa berani untuk menjadi diri sendiri tanpa harus mau dikotak-kotakkan dengan genre tertentu. Dan bahkan percaya bahwa karya yang dihasilkan akan menemukan penggemarnya sendiri tanpa harus membuat gimmick tertentu terasa sekali. 

Hasil dari satu dasawarsa mereka melanglang buana, Senyawa membawakan hampir 20 lagu dalam waktu kurang lebih 1,5 jam. Dan saya melihat sendiri bagaimana pengalaman tur mereka di berbagai penjuru dunia dan bermain di depan banyak orang. Di festival pun berkolaborasi dengan banyak sekali artist membuat penampilan mereka prima tanpa cela sedikit pun. Mulai dari preparasi alat yang cukup cepat, suara Rully yang dari awal set dimulai hingga akhir yang kualitasnya terus terjaga sehingga membuat set mereka menjadi tidak terasa lama bahkan rasanya buat saya pribadi menjadi konser awal tahun yang akan susah dicari lagi bahkan saya ulang lagi rasanya.

Lewat sebuah duo yang terjadi akibat ketidaksengajaan dari sebuah kolaborasi dadakan dalam sebuah acara, hingga menjadi sebuah duo yang akan selalu ditunggu penampilannya. Senyawa membuktikan bahwa segala hal yang terjadi selama satu dasawarsa ke belakang adalah sebuah perjalanan singkat yang masih akan mereka jalani ke depan. 

Saya akan menunggu bagaimana perayaan Dasawarsa Kedua mereka nanti, dan berbagai macam kejutan yang akan mereka bawa nantinya. Satu hal yang pasti, Senyawa akan terus dan terus melaju. Sekali lagi Limunas membuktikan bahwa kejelian mereka dalam memilih siapa yang akan menjadi penampil dalam acara mereka adalah keputusan yang jitu. Saya pun akan selalu menunggu siapa lagi yang akan mereka ajak ke atas panggung dan akan selalu bahagia menjadi bagian dari keluarga yang semakin besar dan besar tentunya. Tabik!

Penulis : Made Yana (@madejerk)

Tags
Show More

Related Articles

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker
%d bloggers like this: