Stage Review

Preanger Fest: Jadi Tuan Rumah di Tanah Sendiri

Bandung dicap sebagai kota kreatif yang terkenal melahirkan banyak musisi andal dan melegenda. Sebut saja band-band dari era 70-an, seperti Giant Step, The Rollies, dan Harry Roesli. Sedangkan di era setelah 2000-an muncul sederet nama musisi muda, di antaranya Tulus, Yura Yunita, sampai Isyana Sarasvati.

Namun sayangnya, sangat jarang atau bisa dibilang tidak ada sebuah festival musik yang seluruh penampilnya adalah band yang berasal dari kota ini. Preanger Fest menjawab kegelisahan itu. Dengan menggunakan tagline ‘Lokal Kudu Vokal’, Preanger Fest membuat 40 band yang tampil selama dua hari pada 13-14 Oktober lalu di Lapangan Pussenif TNI AD berjaya di tanah sendiri.

Menhadirkan band dan musisi dari lintas genre, sederet nama populer memainkan aksinya, di antaranya adalah Koil, Burgerkill, HMGN, Rock and Roll Mafia, Bimbo, hingga Rusa Militan. Pada hari pertama gelarannya, Bimbo menjadi penampil yang usianya paling tua. Band yang sudah ada sejak tahun 1967 ini pun berbaur dengan para generasi muda yang mungkin saja belum pernah menyaksikan Bimbo sebelumnya.

Meskipun menjadi penampil yang paling senior, Bimbo termasuk yang paling ditunggu penampilannya. Naik panggung pukul 21:30 WIB, Bimbo tampil dengan line up super lengkap dengan iringan string section dan orchestra pimpinan Ari Marifat. “Umur Bimbo teh hari ini udah 52 tahun. Sekarang mah Bimbo hidup hanya bernyanyi saja,” ucap Sam Bimbo pada penonton yang hadir. Meskipun usianya sudah tidak muda lagi, trio bersaudara yang terdiri dari Sam, Jaka dan Acil ini masih memiliki daya tarik yang kuat, sehingga membuat anak-anak muda mendekat ke depan panggung ketika Bimbo menyanyikan nomor-nomor populernya.

Meskipun baru latihan dua hari sebelum tampil, tapi hal tersebut tidak jadi masalah yang berarti bagi mereka. Buktinya mereka tetap mampu menyanyikan lagu demi lagu dengan baik di atas panggung. Terlebih lagi, hampir semua lagu diikuti oleh nyanyian massal dari baris penonton. Malam itu Bimbo membawakan beberapa nomor, di antaranya ‘Cium’, ‘Balada Biduan’, ‘Sajadah Panjang’, hingga lagu penutup ‘Ada Anak Bertanya Bertanya Pada Bapaknya’.

Bergerilya di Hari Kedua

Cukup puas mengyaksikan para penampil di hari pertama. Preanger Fest kembali berlanjut di hari kedua dengan nama-nama yang lebih berisi. Ada Sigmun, Burgerkill, Flukeminimix, Teenage Death Star, Pas Band, hingga Koil.
Teenage Death Star bisa dibilang menjadi salah satu band yang plaing dinanti. Unit rock ugal-ugalan yang jarang manggung ini tampil liar, sebab sang vokalis Sir Dandy selalu menghampiri penonton di baris depan untuk turut berpesta dengan music khas ala TDS.

Malam itu, TDS tampil ditemani oleh seseorang yang menjadi impersonator Pak Tino Sidin, seorang guru gambar dan pelukis yang terkenal di era TVRI tahun 80’an, untuk menggambar secara langsung selama TDS berada di atas panggung. Tidak hanya itu saja, TDS juga mengajak dua orang lain yang bertindak sebagai badut dan penari api.
Di lagu terakhir, aksi TDS pun ditutup dengan klimaks oleh penari api yang menyemburkan apinya ke arah penonton. Mereka membuat panggung malam itu bak arena sirkus sesungguhnya. Rasanya, malam itu TDS berhak mendapat predikat penampil paling chaos.

Gelaran Preanger Fest kemudian ditutup oleh penampilan dari The Groove. Grup musik yang beranggotakan Rieka & Reza (vokal), Arie Firman (bass), Ari (Gitar), Tanto (Keyboard), Rejoz (Perkusi), dan Detta (Drum) seketika membuat penonton bernyanyi bersama sembari bergoyang menikmati musik acid jazz yang disuguhkan malam itu.
Kabarnya, Preanger Fest akan menjadi agenda rutin yang akan diselenggarakan setiap tahunnya di kota ini. So, sampai bertemu lagi tahun depan di Preanger Fest 2019!

Ditulis oleh Armand Muttaqin

Tags
Show More

Related Articles

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker
%d bloggers like this: