Stage Review

Pierrot Lumiere: Eksperimen Perkawinan Musik Klasik dan Teknologi Kekinian


“Saya seperti habis diculik dan ketika dilepas lagi saya tidak ingat apa-apa, juga tidak tahu sedang di mana,” ujar seorang kawan selepas menonton konser musik bertajuk ‘Pierrot Lumiere’ yang dibawakan oleh kelompok ensembel asal Jerman, MAM.manufaktur fur aktuelle musik, di Goethe Institut Jakarta, Selasa, 12 Februari 2019.

Sejak awal datang ke lokasi pertunjukan, kepala kami memang kosong tentang musik apa yang bakal disajikan pada malam hari ini. Pemberitahuan awal yang menyebut pertunjukan malam ini sebagai konser multimedia sempat membuat saya membayangkan adanya eksperimen yang membenturkan antara musik klasik dan perpaduan alat-alat canggih zaman sekarang.

Saya sengaja menghajar konser malam ini tanpa terlebih dahulu melakukan riset apa pun. Terlebih pertunjukan musik kali ini memang rangkaian dari seri Anders Horen alias listening differently atau dalam bahasa Indonesia, mendengar dengan cara yang lain. Penampil dijanjikan bakal bereksplorasi dan menyajikan teknik eksperimental dalam membawakan komposisi-komposisi musik klasik. 

“MAM adalah wadah eksperimen, dobrakan batasan, dan pertemuan berbagai hal yang biasanya dianggap mustahil,” tertulis dalam dokumen pengantar konser. Dengan demikian, saya berupaya mengandalkan semua indera saya untuk menikmati konserini, tanpa memasang ekspektasi awal.

Begitu duduk di kursi penonton, saya langsung merasa tersesat. Saya seperti orang bingung yang datang ke kerumunan orang asing dengan bahasa antah berantah. Tanpa ba-bi-bu, MAM langsung memulai aksinya. Suara sampling dari kebisingan jalan raya sudah terputar. 

Seperti orang linglung, mata saya langsung melihat sekitar, mencoba mengidentifikasi keadaan. Pandangan saya menjelajah seisi panggung. Panggung ternyata disetting dengan setelan yang tidak biasa. Tepat di bagian depan panggung ada dua orang personel ensembel dengan pelbagai piranti elektronik, ada alat sampling hingga laptop. 

selain memegang alat musik digital, mereka juga masing-masing menyiapkan alat musik, yaitu terompet dan basun. Salah satu dari mereka juga menyiapkan sebuah akuarium bundar sebesar bola sepak dengan air mengisi separuh volumnya. “Ini semakin ajaib,” batin saya.

di antara mereka, sebuah layar seperti kelambu terpasang. Di belakang mereka, tampak personil lainnya dengan set layaknya orkestra kamar, mulai dari piano, seruling, klarinet, biola, cello, serta seorang penyanyi soprano dan konduktor.

Belum selesai pengamatan saya, musik mulai mengalun. Telinga langsung dihantam nada tinggi. Musik berjalan intens seperti film-film psikologi thriller maupun suspens. Solois bersuara sopran melantunkan lirik dalam bahasa Jerman dengan gaya nyanyi ala opera. Lantaran tidak mengerti tentang cerita yang ia lantunkan, saya jadi lebih fokus dengan bunyi dan tampilan di panggung.

Tidak salah memang kalau pertunjukan ini disebut konser digital. Kelambu yang terbentang di panggung ternyata berfungsi sebagai layar. Sepanjang acara, berbagai adegan disajikan di layar, mayoritas adalah adegan tanngan seseorang menulis lirik lagu tersebut.

Di sela-selanya, penonton diajak berpindah dari satu tempat ke tempat lain, mulai dari jalan raya, perkotaan, hingga hutan. Pergantian lokasi juga diiringi dengan nuansa yang berubah. Misalnya saja pada setting perkotaan, duet Alexander Hadjiev dan Paul Hubner langsung menyajikan bebunyian khas seperti deru suara mobil dan bunyi mesin pesawat terbang, atau suara ribut orang-orang di keramaian.

Begitu pula saat latar tempat berpindah ke daerah hutan. Selain layar yang menampakkan gambar pepohonan, duet musisi juga menyajikan bebunyian khas seperti suara-suara serangga. Selain menggunakan sampling, mereka juga menggunakan berbagai metode dalam menyajikan nuansa. Misalnya Hubner yang menutup lubang terompet dengan lempeng logam dan memainkan air di dalam akuarium. 

Sepanjang pertunjukan, para penonton juga diajak melihat koreografi yang ditampilkan grup ensembel ini. Tentu saja sang vokalis wanita, Julia Spies, tampak seperti tokoh utama dengan bergerak ke sana ke mari, mulai dari berdiri di belakang layar kelambu hingga ke depan sambil menjatuhkan kertas-kertas partitur setelah dibaca. Bergantian, pemain biola Johannes Haase dan peniup klarinet Richard Haynes juga dapat kesempatan unjuk gigi.

Mengenai lirik yang disampaikan, bagi orang yang tidak menguasai bahasa Jerman, pasti akan sulit mengerti. Apalagi tidak ada pendahuluan mengenai lagu yang akan dibawakan. Bila membaca tulisan pengantar, sajian yang dibawakan adalah interpretasi dari mahakarya Arnold Schonberg berjudul ‘Pierrot Lunaire’. Karya tersebut adalah melodrama yang berisi tiga kali tujuh puisi dari Albert Giraud dengan iringan musik. 

Berdasarkan informasi yang dihimpun, ada tiga babak dengan masing-masing berisi tujuh puisi. Pada babak pertama, Pierrot menyanyikan lirik soal cinta, seksualitas, dan agama. Sementara babak kedua bertema soal kekerasan, kriminalitas, dan penistaan. Adapun pada babak ketiga, sang Pierrot diceritakan kembali ke kampung halamannya di Bergamo dengan masa lalu yang terus menghantuinya.

Secara umum, saya menggambarkan konser selama satu jam ini seperti perjalanan di mana saya tersesat hingga frustasi dan kelelahan. Nada-nada yang dibawakan menghantarkan khayalan saya ke sejumlah adegan dalam film menegangkan yangpernah saya tonton. Kondisi ini semakin intens dengan tidak adanya jeda antar babak. 

Nuansa-nuansa yang disajikan membuat saya seperti dibawa ke kota asing dan disekap di hutan, sebelum akhirnya dilepas bebas kembali. Mencekam! Kebingungan terjadi lantaran tidak adanya mukadimah dan penutup di akhir. Pasalnya, setelah musik selesai, para pemain hanya berjajar di depan, memberi salam, dan langsung menghilang ke belakang panggung. 

Meski demikian, layaknya menonton film bergenre psikologi-suspense-thriller, ada kepuasan tersendiri setelah mengetahui pertunjukkan secara keseluruhan, di samping bingung dan segala tanya. Selain itu, penyajian multimedia, koreografi dan pensuasaan yang diciptakan sangat apik dan memang memberi pengalaman baru dalam mendengar musik klasik.

CAESAR AKBAR
Caesar adalah penikmat musik multi-genre. Di sela-sela kesibukannya sebagai karyawan, ia kerap mencari pertunjukan-pertunjukan musik, terutama yang cuma-cuma. 

Tags
Show More

Related Articles

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker
%d bloggers like this: