Stage Review

Pendaratan Pertama Kelompok Penerbang Roket di ‘Galaksi’ Limunas

Bicara Limunas, sudah tentu bicara perayaan. Hingga saat ini, bagi saya pribadi bisa jadi mereka adalah kolektif yang paling tahu bagaimana caranya untuk bersenang-senang, dari cara mereka memilih penampil atau memperlakukan penonton yang hadir-borderless-intim.

Memasuki penyelenggaraanya yang ke-13 kali, perayaan kali ini menjadi milik para Pencarter Roket-sebutan untuk fanbase Kelompok Penerbang Roket (KPR). Pasalnya, pada Sabtu, (22/12) lalu di Institute Francais Indonesia Bandung, trio rock’n roll paling gaduh dan sibuk selama dua tahun belakangan ini berhasil melakukan pendaratan mereka di ‘Galaksi’ Liga Musik Nasional untuk kali pertama.

Menurut kabar yang beredar, mereka seharusnya mendarat pertama kali pada Limunas X, yakni pada September 2017 lalu. Namun karena satu dan lain hal mereka melewatkan kesempatan tersebut.

Untuk menemani KPR pada helatan kali ini, Limunas menghadirkan kuartet crust n’roll muda berbahaya asal Bandung yaitu Brigade Of Crow yang baru saja merilis album penuh perdananya bersama Disaster Records. Selain itu, Limunas juga menampilkan Jangar, kuartet heavy-rock asal Bali yang sekaligus menjadi roster terbaru dari Berita Angkasa, label yang juga menaungi Kelompok Penerbang Roket.

Pencuri Perhatian
Didapuk sebagai penampil pembuka, Brigade Of Crow pun tampil ugal-ugalan, yang nyatanya tidak menyurutkan nyali para ‘serdadu gagak’. Ini menjadi kali pertama saya menyaksikan penampilan mereka secara langsung. Bengis, padat dan tak bertele-tele. Perpaduan Motorhead, Inepsy, dan Anti-Cimex memang membahayakan sekaligus jahat jika didengarkan saat tipsy-headbang.

Kurang lebihnya, sekitar sembilan atau sepuluh lagu mereka bawakan. Penonton nampaknya memang butuh waktu agak ‘delay’ untuk memanaskan moshpit. Sebab baru di beberapa lagu terakhir circle pit dan stage dive tercipta. Entah karena penonton tak tau harus berbuat apa, atau memang mereka sengaja menyimpan energi untuk Kelompok Penerbang Roket.

Sangat disayangkan memang jika menyaksikan band rpm-tinggi macam Brigade Of Crow hanya dengan berpangku tangan. Pengalaman menyaksikan mereka secara langsung, adalah pengalaman yang menyenangkan secara auditif. “Sistem Yang Paling Baik, Hanyalah Sound System!” dan “Rock n’Roll Apokalips” adalah dua trek favorit dalam album Delta Blues Narkotik cum saat dimainkan secara langsung. Mencuri perhatian!

Sejurus kemudian, giliran Jangar naik pentas. Band yang digawangi oleh Gusten Keniten (vokal), Dewa Adi (Gitar), Raibio (bas), dan pasek Darmawaysya (dram) hadir dengan nuansa panggung yang serba merah. Sejak kali pertama merilis single “Gestok” pada April 2016 silam, band ini cukup menjadi pendatang baru yang ditunggu banyak kalangan. Paduan riff-riff blues rock dengan tuning rendah yang mereka mainkan cukup membuat beberapa orang ‘stoned’, meski tetap hanya berdiam di tempat. Enam buah lagu mereka bawakan dengan cukup apik, termasuk nomor-nomor favorit seperti “Ruptural”, “Konstan”, “Robokop” dan “Gestok” tentunya. Kabar gembiranya, Jangar akan segera merilis album mereka di awal tahun depan. Konon, salah satu materi di album mereka juga menghadirkan Doddy Hamson (Komunal) sebagai vokalis tamu.

Pendaratan Pertama

Menghadirkan Kelompok Penerbang Roket ke ‘galaksi’ Limunas bisa dikatakan membutuhkan usaha yang lebih. Perkara jadwal mungkin salah satunya. Jika melihat jam terbang trio rock ini yang begitu padat, gaung dan aktivasi mereka sebagai band cukup seliweran di dunia maya. Selang setengah jam rehat, waktunya KPR naik pentas. Seperti yang sudah diprediksi sebelumnya, beberapa penonton yang berdiam diri sontak langsung merangsek ke depan panggung begitu intro dan “Target Operasi” dimainkan. Yang menyenangkan malam itu adalah banyak teman perempuan yang masuk circle pit, mereka seakan tak segan stage dive bersama penonton laki-laki yang tahu diri dan tau aturan. Segan!

John Paul Patton (vokal, bas), I Gede Vikranta (dram), dan Rey Marshall (gitar) adalah tipe penampil yang patut disaksikan secara langsung. Penampilan mereka enerjik dan juga menghibur. Terlebih jika mereka membawakan materi dari album Teriakan Bocah. Karena ada band yang memang hanya menyenangkan ditonton saat tampil langsung ketimbang didengarkan melalui CD atau streaming.

Pada pendaratan pertama mereka di Limunas kemarin, KPR total membawakan 11 lagu dengan encore. Nomor-nomor popular macam “Berita Angkasa”, ”Dimana Merdeka”, “Tanda Tanya” dan “Anjing Jalanan” sukses menjadi bahan bakar bagi para Pencarter Roket. Satu yang mungkin agak kurang penting adalah sesi instrumental dan solo dram yang agak kepanjangan. Namun, hal tersebut juga bisa dimaklumi, karena saya pun kesal jika menjadi Rey, ketika instrument yang ia gunakan harus mengalami gangguan teknis oleh tangan jahil penonton yang tidak bertanggung jawab.

Jika tidak salah ingat, Limunas adalah showcase intim kedua mereka di Bandung di luar panggung besar regular mereka. Setelah sebelumnya mereka sempat menggelar showcase intim bersama Sigmun dan The Fox and The Thieves. Pendaratan pertama ini cukup menyenangkan, pada kenyataannya energi besar mereka memang tak bisa terbantahkan. Meski “Galaksi Palapa” bagi saya secara pribadi kurang menjanjikan, namun menyaksikan Kelompok Penerbang Roket secara langsung dan intim adalah perihal lain di luar perkara auditif. Panggung rock memang sudah seharusnya tanpa remeh-temeh dramaturgi atau sekadar blocking panggung semata.

Tags
Show More

Related Articles

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker
%d bloggers like this: