Stage Review

One Hour Set WSATCC: Mari Vakansi!

“Sibuk terus di kantor itu tak baik pula. Selalu pulang malam dan lupa keluarga.
Jangan marah, mari menyanyi saja.”
White Shoes and The Couples Company – ‘Vakansi’.

Balada pekerja akhir pekan yang gamang, namun butuh hiburan memang tak pernah usai. Termasuk saya dan mungkin beberapa kawan yang kemarin hadir. Jangankan vakansi, kesamaan yang mempersatukan hanyalah; gerutu serta perasaan terperam akan hiburan, namun tak berdaya berhadapan dengan tenggat pekerjaan yang mustahil dihindari.

White Shoes and The Couples Company dan tim nampaknya tahu betul bagaimana mengucapkan selamat datang bagi para penonton yang hadir untuk melihat ‘Pameran Album Foto Vakansi’ sekaligus penampilan mereka di ‘One Hour Set Volume IV’ di Lou Belle Shop, Jalan Setiabudi, Bandung (14/7). Petikan lirik lagu ‘Vakansi’ yang pada proses kreatifnya ada campur tangan gitaris jazz kawakan Oele Pattiselanno serta Almarhum Riza Arshad cukup plastis dan subtil untuk membentuk suasana ceria di bagian rumah paling depan yang di sulap menjadi galeri mungil.

Dua artwork utama gubahan Aprilia Apsari dan Saleh Husein juga melengkapi ruang pamer depan. Disusul puluhan foto pameran hasil kurasi periode 2011 silam sebagai proyek visualisasi album penuh kedua mereka yang dirilis oleh Purapura records dan Demajors 2010 lalu,’Album Vakansi’. Sebelumnya, pameran ini telah menjalani tour pada tiga kota yaitu Yogyakarta, Surabaya dan Jakarta pada 2011 dan 2012 lalu. Selain itu, pada tahun lalu pameran ini kembali di gelar pada pembukaan Vakansi Studio di Gudang Sarinah, Jakarta.

Butuh waktu 6 tahun untuk pameran ‘Album Vakansi’ ini terlaksana di Bandung. Menurut pengantar pameran yang mereka sediakan, Bandung sebenarnya mendapat jatah pada 2012 silam, namun karena satu dan lain hal urung terlaksana. Pameran ini sendiri cukup menarik, dengan tujuan mengumpulkan memori kolektif dari para peserta yang berpartisipasi tentang makna ‘vakansi’ yang berkesan dan menyenangkan melalui medium fotografi. Proses pengumpulan karya fotografi tersebut berlangsung selama satu bulan penuh pada 8 April 2011 hingga 8 Mei 2011. Dari proses tersebut, berhasil terkumpul sekitar 400 buah foto dari total 92 orang peserta yang terlibat dari berbagai kota di Indonesia. Beberapa foto yang terpilih inilah yang kemudian di pamerkan di ruang pamer Lou Belle Shop, kemarin.

Sesi yang Kurang Menyelisik

“Di India caur emang, kita makan disini, doi bisa aja berak sebelahnya. Tapi, di India cuma gue yang banyak ditanya orang sono. Se-tipe gue boy sama mereka,” jawab Saleh ‘Ale’ Husein kepada pemandu acara sesi tanya jawab One Hour Set Volume 4, yang kemudian ditimpali tawa seisi ruangan.

WSATCC sendiri duduk dengan santai dan rapih, berderet di kursi warna-warni di depan set panggung mungil di ruang tengah Lou Belle, yang juga senada dengan pakaian mereka yang ramai warna. Saya duduk tepat di depan Nona Sari dan Ale hanya terhalang seorang videografer yang tampak serius sekali, bahkan sebelum acara mulai. Seperti biasa, dalam One Hour Set, sebelum penampilan dari musisi yang bersangkutan selalu ada sesi tanya jawab terlebih dahulu. Saya baru kali pertama menghadiri sesi ini.

Sayangnya, sesi tanya jawab kali ini terasa mubazir dan kurang menyigi (red: riset). Duo pembawa acara malam itu nampak tidak terlalu bergairah, atau mungkin kurang asupan kafein. Selain celotehan yang kurang pas, mungkin, beberapa pertanyaan yang mereka lontarkan spontan saja. Tanpa mengecilkan daya dan upaya tim yang menyiapkan gelaran ini, alangkah lebih menyenangkan jika di gelaran berikutnya format sesi tanya jawab ini dipersiapkn lebih baik lagi. Minimal riset untuk bahan pertayaan. Ah, atau mungkin saya saja yang terlalu berlebihan. Karena yang lain saya lihat tertawa-tawa saja selama hampir 40 menit sesi tersebut berlangsung.

Waktunya Vakansi!

“Lama sudah kita tak jumpa, tiga tahun telah berlalu. Ingat dulu tak akan terlupa, senantiasa selalu,” petikan lirik yang diubah sedikit diatas, rasanya pas dengan apa yang saya rasakan ketika menyaksikan kembali penampilan sekstet jebolan Cikini, Jakarta, White Shoes and The Couples Company (WSATCC) di Bandung. Setelah terakhir kali menyaksikan mereka pada gelaran intim lainnya 3 tahun silam di Limunas. Karena saya tak pernah tertarik menyaksikan penampilan mereka di panggung yang besar, terlalu berjarak.

Lagu ‘Super Reuni’ memang tak masuk daftar set penampilan WSATCC kemarin, pun dengan setlist yang dibawakan bisa dibilang bukan set ‘populis’ mereka jika merujuk pada tiga set terakhir panggung Ale dan kawan-kawan di Setlist.fm. Tapi, peduli amat dengan dengan setlist, menyaksikan “Sunday Memory Lane”, “Runaway Song” dan “Matahari” secara langsung dengan suasana intim adalah sebenar-benarnya ; menang banyak! Agaknya, cukup sulit untuk tidak menari di konser WSATCC, atau minimal menghentakan kaki tipis-tipis dengan musik dan penampilan mereka yang selalu menghibur. Menyaksikan mereka selalu menjadi pengalaman yang menyenangkan, seakan tenggelam dalam mesin waktu dengan perlahan.

WSATCC membuka penampilan dengan mengajak penonton yang hadir bervakansi ke album pertama mereka melaui ‘Senja’ dan ‘Brother John’, dengan formasi bertiga Aprilia Apsari (vokal), Aprimela Prawidiyanti (violin) dan Saleh Husein (gitar). Baru kemudian pada “Sunday Memory Lane” John Navid (dramer), Yusmario Farabi (gitar akustik), dan Ricky Virgana (bas) hadir melengkapi keriaan penampilan mereka. Lagu berikutnya, mereka mengajak penonton maju ke album Skenario Masa Muda dengan ‘Roman Ketiga’ yang seakan menjadi penanda waktunya koor masal dimulai. ‘Tentang Cita’ juga mereka hadirkan dengan riang mengalun.

Keriaan makin tak terhindarkan, bahkan saat intro ‘Selangkah Keseberang’ belum genap memasuki setengah bagiannya. WSATCC begitu lincah saat memainkan lagu yang juga pernah di populerkan salah satu penyanyi Indonesia kenamaan, Iis Sugianto. Meski sound dalam ruangan yang begitu kecil ini tidak terlalu maksimal keluarannya, bebunyinan synthesizer khas Fariz RM masih sangat menyenangkan dan jelas terdengar. Tanpa jeda panjang, “Masa Remadja” mereka bawakan. Di beberapa kesempatan, versi live lagu ini justru terdengar lebih enerjik, sama ceria dan nakalnya dengan ‘Sendja Menggila’. Mungkin.

Menutup sesi pertama, mereka menghadirkan ‘Vakansi’, lagu yang juga dijadikan judul album penuh kedua dan proyek pameran foto WSATCC. Lagu-lagu di ‘Album Vakansi’ ini memang cukup berbeda dengan album mereka lainnya. Sesi rekaman untuk album ini mereka lakukan secara live, eksplorasi bebunyian mereka pun kian beragam. Banyak ragam bebunyian string dari mulai cello, viola, hingga brass. Belum lagi bunyi khas microkorg dan Elepian piano yang entah kenapa begitu menempel pada album ini.

“Pernah nggak sih ngulik dan gitaran lagu dalam kamar?” tanya Nona Sari.
“Nah, penampilan berikut ini, anggap saja saya sedang mengulang hal tersebut,” sambung Nona Sari.

Cukup mengejutkan, ini kali pertama saya menyaksikan Sari memainkan gitar ditemani Mela dengan violanya. Mereka memainkan sebuah cover dari The Velvet Underground berjudul “Stephanie Says”. Sederhana, namun lebih dari apa yang Sari sebut sebagai ‘ngulik dan gitaran dalam kamar’. Ya, lagi-lagi saya dan beberapa yang hadir kemarin cukup beruntung, pasalnya WSATCC memainkan “Runaway Song” untuk membuka set kedua. Lagu yang cukup jarang dimainkan dalam penampilan mereka.

Ibarat lotre, bagi saya, sabtu malam kemarin adalah menang tiga kali secara beruntun. Sebuah lagu mahal berjudul “Matahari” akirnya bisa saya saksikan secara langsung. Lagu ajaib gubahan David Tarigan ini adalah bagian terbaik dari set mereka kemarin. Lirik bahasa Inggris dengan irama khas Indonesia timur membaur menjadi satu dengan anggun. Satu hal yang kurang, mungkin, tak ada gelas berisi Swansrai untuk berdansa malam itu.

Selanjutnya, salah satu yang paling ditunggu akhirnya mereka bawakan juga, “Kisah Dari Selatan Jakarta”. Tanpa perlu aba-aba satu isi ruangan ikut menyanyi dengan keras. Kemudian “Tjangkurileung”, “Dana Express”, dan “Top Star” mereka pasang berurutan. Ruangan kecil di Loubelle Shop ini mendadak menjadi dance hall, layaknya suasana disko rumahan tiga dekade silam. Lagu yang disebut terakhir sebenarnya adalah lagu penutup dari mereka. Namun, rengekan penonton akhirnya meluluhkan WSATCC untuk membawakan “Senandung Maaf” dan “Aksi Kucing”sebagai encore.

Entah berapa banyak senyuman yang terkembang di muka para penonton setelah sajian spesial dari WSATCC kemarin. Tertawa, menari dan vakansi ternyata bukan hal yang tidak mungkin dilakukan bersamaan. Lebih jauh lagi, showcase mereka kemarin mengingatkan kita untuk menepi dari rutinitas sesekali. Karena hidup cuma sekali, mari vakansi!

Ditulis oleh Irfan Nasution

Tags
Show More

Related Articles

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker
%d bloggers like this: