Stage Review

Navicula : Kemanusiaan dan Menyaksikan Mereka di Rumahnya Sendiri.

Malam itu (15/02) saya menyaksikan Navicula lagi untuk kali kedua di Deus, Canggu. Kali ini, di sebuah acara solidaritas bertajuk ‘Bush Fire Appeal’ yang diadakan oleh ekspatriat Australia sebagai bentuk dukungan terhadap Australia yang menghadapi bencana kebakaran hutan beberapa waktu yang lalu. Ada beberapa band lain yang turut serta, seperti Dunia Ketiga, Rivaba, Merapu, dan The Hydrant.

Dulu, Folk Music Festival jadi panggung pertama saya menyaksikan Navicula secara langsung. Salah satu dari beberapa band besar Bali yang saya ketahui. Navicula, dikenal sebagai band grunge dengan sebutan ‘the Green Grunge Gentlemen’, karena aktivitas mereka di dunia aktivisme sosial dan lingkungan. Tumbuh di Bali, isu sosial, serta perubahan ekologi yang terjadi di Bali dan dunia secara global, menjadi materi lagu di beberapa album mereka.

Malam itu ‘Depan Layar’ menjadi nomor pembuka bagi 7 lagu lainnya dalam set Navicula. Penonton, yang malam itu saya rasa memenuhi ruangan, sangat menikmati penampilan Navicula. Penampilan mereka berlanjut pada lagu ketiga dan keempat ‘Everyone Goes to Heaven’ dan ‘Love Bomb’. Suasana makin ramai, pada nomor lagu ‘Busur Hujan’, ‘Mafia Hukum’, dan ‘Bali Berani Berhenti’ menjadi puncak kemeriahan malam itu, beberapa ekspat yang tak sengaja saya liat merapalkan dan menyanyikan lagu-lagu tersebut.

Menyaksikan sebuah band di tempat mereka lahir dan berproses menjadi hal menarik bagi saya. Yang ingin saya lihat lebih pada bagaimana suasana dan penerimaan tentang band tersebut di atas panggung. Seperti halnya di Bandung, ruang-ruang panggung kolektif akan menarik dalam konsep dan cerita di dalamnya dibanding panggung dengan konsep pensi atau acara kampus.

Sebenarnya, saya pertama menyaksikan beberapa musisi Bali seperti Badik Tilu, Pandu Sukma, Pekat Terakhir, dan Mencapai Titik Fantasi, di sebuah screening film. Tapi mereka nanti akan saya ceritakan di tulisan yang berbeda. Kali ini saya ingin menulis tentang pengalaman saya menyaksikan Navicula.

Kemeriahan malam itu ditutup oleh nomor lagu “Televishit”. Saya rasa, setelah menyaksikan Navicula dan beberapa band lainnya, saya telah mendapat sedikit potongan gambaran tentang kemeriahan panggung musik di Bali. Tentu itu baru satu potongan kecil, dari beragam musik dan skena yang tumbuh di Bali. Navicula, sebuah kesahajaan dalam bermusik dan berkehidupan, Cheers for Humanity!!

Penulis : Insan Kamil

Tags
Show More

Related Articles

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker
%d bloggers like this: