Stage Review

Megaloblood Showcase: Nostalgia Tanpa Jeda

 

 

Lewat gelaran Megaloblood Showcase, Koil kembali mengenang perjalanan album Megaloblast.

Sekian lama absen menggelar konser tunggal, grup band Koil yang beranggotakan Otong (vokal), Donni (gitar), Adam (bass), dan Leon (drum) merayakan 17 tahun album Megaloblast yang diberi tajuk Megaloblood Showcase. Digelar di Spasial, Gudang Selatan, 20 April 2018 Koil berbagi panggung dengan Pelteras dan Under The Big Bright Yellow Sun, 2 band pembuka yang terpilih lewat sayembara yang diadakan Koil sebelum helatan ini digelar.

Acara dimulai pukul 19:00, hujan deras tidak menyurutkan hasrat para Koil Killers untuk datang dan bersenang-senang bersama. Palteras mulai memanaskan panggung, band post-punk asal Jakarta ini membawakan 6 lagu. Tak salah memang Palteras dipilih sebagai band pembuka, lagu-lagunya cocok menjadi pemanas suasana sebelum empunya hajat naik pentas. Walau di awal penampilannya sempat terjadi gangguan, Palteras menghadirkan 45 menit setnya dengan cukup baik.

Setelah Pelteras usai memainkan set nya, giliran Under The Big Bright Yellow Sun mengambil kendali panggung. Tampil selama 45 menit, UTBBYS memainkan 6 lagu miliknya dan mengcover lagu milik Koil yang berjudul Aku Rindu.

Tibalah saatnya sang empunya hajat mengambil alih penuh panggung Megaloblood. Seluruh personel turun dari artist room melewati anak tangga, lalu naik ke atas panggung yang tak menyisakan jarak sedikit pun dengan penonton. Koil naik panggung pada pukul 21:00 dan memainkan setnya selama 2,5 jam yang terbagi dalam 2 sesi. Trek Kenyataan Dalam Dunia Fantasi mengawali sesi pertama, lalu digeber tanpa jeda dengan lagu Aku Lupa, Aku Luka, dan Nyanyikan Lagu Perang. Menariknya ketika Nyanyikan Lagu Perang dinyanyikan, muncul seseorang berkostum hantu yang mengagetkan penonton di tengah set. Tapi penonton malah semakin menggila, seakan tak peduli apa yang ada di sekitarnya.

Di tengah set, Otong berterima kasih kepada Palteras dan UTBBYS karena  telah menjadi band pembuka yang sangat baik malam itu. Kemudian set dilanjutkan dengan lagu Semoga Kau Sembuh part 2, Lagu Hujan, dan ditutup oleh Aku Rindu, yang membuat koor massal di seisi ruangan Spasial.

Sebelum sesi dua dimulai, Koil berganti kostum terlebih dahulu dan memberikan jeda sedikit kepada penonton untuk beristirahat sejenak. Di sela istirahat, Koil memutar video berupa cerita mengenai proses pembuatan album Megaloblast dan segala kisahnya, serta memutar video terstimoni dari rekan-rekannya juga member Koil Killers Klub. “Dulu saya kira album ini gak akan pernah rilis. Karena saat pembuatannya terlalu banyak masalah yang dirasa gak beres-beres. Prosesnya terlalu panjang,” tutur Leon, sang penabuh drum. “Zaman itu bisa dibilang kita itu gak punya duit. Mau rekaman pun pinjam uang ke Ayahnya Leon buat bikin demo,” Adam menambahkan.

“Kita akan membawakan seluruh lagu di album Megaloblast, untuk merayakan 17 tahun album tersebut,” papar Otong sebelum menghajar penuh sesi kedua.

Sesi kedua pun berlangsung padat diawali oleh trek Dosa Ini Tak Akan Berhenti, lalu dihajar penuh secara berturut-turut dengan lagu Apa Yang Kita Percaya, Peluk Diri, Rasa Takut adalah Seni, Kesepian Ini Abadi, hingga Ini Semua Hanyalah Fashion. Koil juga membawakan Everlast, hidden song yang hanya ada di album Megaloblast versi vinyl yang dirilis beberapa tahun lalu. Pemberontakan Norma/Bantulah Kami Melihat pun dipilih menjadi set penutup.

Melihat antuasiasme penonton yang tinggi, Koil memberikan encore dengan membawakan single mereka yang berjudul Hiburan Ringan Part 1. Tak terasa 2,5 jam berlangsung begitu cepat. Malam itu penonton terpuaskan oleh penampilan Otong dkk. Terima kasih sudah membuat Jumat malam kami begitu berenergi, Koil!

 

Ditulis oleh Made Yana, berakun Instagram @madejerk

Tags
Show More

Related Articles

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker
%d bloggers like this: