Stage Review

Limunas XII – Forgotten: 24 Tahun Ugal-ugalan, Tetap Sompral Dengan Biji yang Tebal!

Jika harus memilih satu nama dari sekian banyak band death metal asal Indonesia dengan kadar sompral paling berbahaya, sudah tentu predikat tersebut milik Forgotten. Mungkin jika urusannya publisitas yang mentereng, banyak band death metal lainnya yang dapat kita runut satu per satu. Tapi rasanya, untuk urusan sompral dan kurang ajar, Forgotten belum menemukan lawan yang sepadan. Lain halnya, jika salah satu kolega mereka, Homicide (RIP) juga merupakan sebuah unit death metal.

“Terima kasih untuk intel polisi yang sudah hadir dan support kita dengan membeli tiket. Tenang, disini tidak ada pesta narkoba. Kalau tidak percaya, silahkan cicipi air pipis kami!” ujar Addy Gembel, sembari berseloroh saat menyapa penonton yang hadir di gelaran Limunas XII Minggu, 5 Agustus 2018 di Auditorium IFI Purnawarman, Bandung.

Ya, begitulah mereka. Walaupun beberapa tahun ke belakang sempat hiatus, agaknya tidak mengurangi sedikit pun kadar kebebalan mereka. Malah semakin intens. Dalam come back kali ini, Forgotten hadir dengan formasi terkini, yaitu Addy Gembel (vokal), Toteng (gitar), Gan-gan (gitar), Diky (bas), dan Zalu (dram). Tak mau hadir biasa-biasa saja, mereka merilis Kaliyuga pada 2017 lalu melalui label asal Kalimantan, Sulung Extreme Musick, dengan agresi dan tensi yang tak mengendur.

Kaliyuga sendiri hadir berjarak 6 tahun, setelah terakhir kali Forgotten merilis album studio kelima mereka Laras Perlaya pada 2011 lalu, melalui Rock Records lengkap dengan sebuah novel dengan judul yang sama, gubahan sang vokalis. Album ini juga menjadi salah satu album death metal paling influensial, baik secara lirikal maupun komposisi musiknya yang begitu luas dan beragam. Begitu cakram padat mulai berotasi, kita diantar menjelajah balik lokalitas dengan bebunyian tarawangsa, meski satu kaki lainnya menapak di tepian pantai Florida bersama Malevolent Creation dan Deicide.

Setidaknya, bagi saya, atau sebut saja ini adalah glorifikasi atas pengalaman pribadi menyusuri Laras Perlaya terkait hal remeh-temeh serupa lirik dan insturmentasi yang konon tak masuk hitungan jurnalisme musik ideal. Bukankah publik adalah hakim yang paling subjektif sekaligus arogan?

Sebenarnya, tanda-tanda ikhwal comeback veteran death metal Ujung Berung ini sudah terlihat sejak dua tahun silam. Mereka mulai rajin manggung di beberapa event berbagai skala, dari mulai panggung kecil di area metal-camp, hingga festival-festival metal tahunan, jika tidak salah ingat. Sayangnya, perihal album masih abu-abu saat itu, karena sang vokalis, Addy Gembel masih rajin pulang-pergi keluar negeri untuk kehidupan domestiknya.

Menjajal Kaliyuga

Processed with VSCO with al2 preset

Wacana konser tunggal Forgotten ini, sebenarnya sudah hilir mudik di beberapa lingkungan terbatas. Dari mulai siapa yang akan handle, di mana lokasinya, dan kapan penyelenggaraannya terus berubah-ubah. Beruntung, pada akhirnya, Limunas yang berjodoh dengan Forgotten. Limunas yang garapannya menggenapi angka ke-12, bisa jadi format paling ideal bagi perayaan 24 tahun perjalanan karir Forgotten. Intim, tanpa polusi visual ‘butut’ dari brand rokok di atas panggung, dan yang paling penting set lagu panjang—tanpa barikade untuk stage dive.

Sebelum menjajal Kaliyuga, Godplant, yang merupakan kuartet sludge metal segar asal Jakarta mencoba memanaskan panggung dengan nuansa New Orleans yang kental. Litong Cs, memainkan nomor-nomor berat, kejam dan tak lambat-lambat amat sebetulnya, dari album ‘Turbulensi’ yang baru saja mereka rilis Maret lalu. Selain itu beberapa nomor dari ‘Preambule’ juga mereka hadirkan tanpa banyak basa-basi. Beberapa terlihat mengernyitkan dahi, lainnya asyik headbang, mengikuti ritme kilauan strobo blitz panggung, seakan-akan berada dalam video dengan frame per second lambat—halusinasi. Kredit juga patut diberikan bagi penata cahaya panggung kemarin, ciamik!

Setengah jam berselang, saatnya yang punya hajat naik pentas. Panggung dengan set sederhana kemarin hanya menyisakan ruang kosong yang cukup besar, alat band, dan proyeksi logo Forgotten di belakang panggung. ‘Bubuka’ menjadi pengiring para personil Forgotten untuk naik panggung. Tanpa perlu menunggu lama, ‘Hidup Adalah Kutukan’ dan ‘Perang Demi Setan’ yang merupakan nomor klasik dari album Tiga Angka Enam rilisan Rottrevore Records 2013 silam, mereka hadirkan sebagai ucapan selamat datang. Menyaksikan mereka di panggung tanpa barikade, nyatanya, adalah sebuah pengalaman lain diluar perkara auditif. Addy Gembel Cs, terlihat lebih rileks, tanpa banyak perihal; dramaturgi panggung.

Babak pertama ini memang cukup menyenangkan. Selain nomor-nomor klasik, mereka juga memainkan trek dari Laras Perlaya dan tentu Kaliyuga yang pengerjaan artworknya dipercayakan pada Morrgth, secara berurutan. Bukan Forgotten namanya jika mereka tak membuat gaduh atau panas kuping. Disela penampilannya, Addy Gembel selalu berseloroh dengan satir. Perkara intel polisi hanya satu diantaranya, belum lagi lelucon sarkas urusan dogma dan moral.

‘Tumbal Post Kolonial’ dan ‘Insureksi Teologi’ hadir di babak kedua, bayangkan saja, “Jangan tanya hak asasi ini milik rezimnya Nazi / Iblis konspirasi jual dirinya di tv /Jendral haus darah mulut penuh sampah / Habib doyan khotbah menebar serapah..” hadir bersahutan dengan koor masal di arena moshpit yang kian panas. Entah para Terlaknat—sebutan penggemar Forgotten— kian menggila, atau bisa jadi lagu ini adalah anthem bagi kumpulan orang-orang yang muak atas kondisi sekitar, malam itu. Pun, hal tersebut juga membuktikan kekuatan lirikal mereka. Karena tak banyak band death metal yang mampu menghadirkan sing along saat konser. Mereka pengecualian.

“Saya sudah 41 tahun, yang lain itu sudah main burung, mengurus ayam. Saya masih gini-gini saja, goblok-goblokan!” seloroh Addy Gembel dengan aksen Sunda yang kental, di jeda panggung sembari mengakali nafasnya yang tak lagi sepanjang dulu.

Mengamini usianya yang tak lagi muda, bukan berarti Forgotten tampil tidak prima. Energinya masih sama dengan panggung intim mereka yang sempat saya saksikan belasan tahun lalu. Bahkan berlipat ganda. Bedanya, mereka harus bersiasat dengan stamina, dan tak bisa terburu-buru. Penampilan mereka kemarin, sedikit banyak mengingatkan saya pada panggung mereka di Rottrevore Death Fest, Laga Pub, Bandung medio 2005 silam. Memasuki set berikutnya, Forgotten mengajak salah satu mantan dramer mereka, Rifky13 yang kini tergabung di unit hardcore Konfliktion, untuk naik pentas. Rifky sendiri merupakan dramer Forgotten yang terlibat penuh dalam penggarapan album Laras Perlaya. Ia hadir sebagai dramer tamu dalam dua lagu ‘Laras Perlaya’ dan ‘Tuhan Profane’ sebelum jeda ketiga dan narasi Morgue Vanguard di putar melalui FOH.

Malam kemarin adalah set terpanjang Forgotten yang pernah saya saksikan, atau mungkin juga bagi mereka. ‘Mentalitas Fasis’ serta ‘Berhala Kelas Kuasa’ harusnya menjadi penutup babak Kaliyuga, pada set kemarin. Jika saja ‘Terlaknat’ dan ‘Obesi Mati’ mereka bawakan bersama Abdul ‘Abah’ Kandris, yang hadir sebagai dramer tamu kedua. Abah sendiri merupakan dramer Forgotten yang terlibat di tiga album klasik mereka Obsesi Mati, Tuhan Telah Mati, dan Tiga Angka Enam. Dua judul terakhir, kemarin, menjadi obat rindu bagi para Terlaknat untuk menyaksikan Forgotten dalam formasi klasik, yang sayangnya tidak dapat menghadirkan Ferly (Jasad) pada departemen gitar. Mungkin, karena sedang menjalankan tour Eropa.

Perayaan!

Processed with VSCO with m4 preset

Limunas, saat ini, bisa jadi kolektif yang paling tahu cara bersenang-senang, setidaknya bagi saya secara subjektif. Dua belas kali menggelar acara, di beberapa perhelatan yang saya hadiri, semuanya selalu menyisakan senyum yang terkembang di ujung bibir. Jika meminjam istilah di salah satu tulisan, bolehlah kalian melabeli tulisan ini sebagai bentuk ‘salutasi kolegial’.

Menghadirkan Forgotten dengan pilihan pendamping band muda seperti Godplant bisa jadi perjudian bagi sebagian orang. Perkaranya sederhana, tidak populis bagi pasar. Tapi toh, seperti yang mereka tuliskan dalam rilis pers, keinginan untuk menonton band yang disuka serta hasrat untuk bersenang-senang jauh lebih besar energinya ketimbang mengurusi kegaduhan receh di sosial media.

Bukan sebatas selebrasi, menghadirkan band paling ugal-ugalam sepanjang 24 tahun karirnya yang tak pernah lepas dari kontroversi, tentu butuh nyali besar. Lebih jauh, perhelatan kemarin menyuguhkan keintiman sebuah perayaan ; band favorit, pertemanan, nostalgia, serta bersenang-senang dengan cara yang sompral dan biji yang tebal. Sudah seharusnya menonton konser semenyenangkan itu!

Ditulis oleh Irfan Nasution

Tags
Show More

Related Articles

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker
%d bloggers like this: