Stage Review

Konser Monokrom: Jamuan Sarat Kejutan dari Tuan Rumah

Sejak kali pertama diumumkan pada akhir Oktober 2018, Konser Monokrom Tulus menjaring atensi tinggi dari berbagai pihak. Dengan estimasi penonton lebih dari 3.000 orang, pertunjukan yang diadakan di Sasana Budaya Ganesha (Sabuga) pada Selasa, 20 November 2018 tersebut menjadi konser tunggal ketujuh Tulus dan kedua yang dihelat di Bandung.

Tulus kembali menggandeng Mega Production dan mempercayakan Ari Renaldi sebagai penata musik. Tentunya, dia memberikan sentuhan berbeda sekaligus personal untuk pagelaran musik ini. Dari desain dan tata panggung yang dirancang sedemikian rupa oleh Wiyoga Nurdiansyah, iringan dari 30 musikus, hingga para bintang tamu spesial.

Sebuah Perayaan Pulang ke Rumah

Menepati jadwal, Konser Monokrom Tulus dimulai pukul 20.00 WIB. Para penonton yang telah memadati venue diminta menyanyikan Indonesia Raya sebelum disambut medley lagu-lagu Tulus yang dibawakan band pengiring. Tak lama berselang, sang bintang utama muncul ke panggung; tanpa basa-basi mengawali konser dengan Baru.

“Halo, saya Tulus,” sapanya selepas membawakan Gajah dan Jatuh Cinta. Dalam balutan pakaian minimalis serbahitam, Tulus melakukan tapak tilas perjalanan musik—termasuk tentang 3 album yang sudah dia rilis dan proyek-proyek yang melibatkan dirinya.

Sebelum memulai lagu selanjutnya, Tulus mengungkapkan bahwa Konser Monokrom merupakan wujud terima kasihnya atas apresiasi penggemar, sekaligus perayaan ‘pulang’ ke rumah. Bisa dibilang, Konser Monokrom ‘telat’ digelar mengingat album ketiga Tulus sudah rilis sejak Agustus 2016. Di sisi lain, Tulus tidak pernah menduga Monokrom bakal mendapat apresiasi besar, termasuk diganjar penghargaan Album Terbaik dari AMI 2017.

Nomor-nomor andalan dari album Monokrom seperti Ruang Sendiri, Monokrom, Tukar Jiwa, dan Langit Abu-abu dengan mudah menyeret para penonton untuk ikut bersenandung. Bahkan Tulus membawakan Cahaya yang, menurut pengakuannya jarang ditampilkan di pertunjukan lain.

Berbagi Panggung dan Eksplorasi Genre

Memasuki separuh pertunjukan, satu per satu kejutan dibongkar. Tulus secara mengejutkan mengajak penyanyi Petra Sihombing untuk memainkan single terbarunya, Labirin. Uniknya, selepas duet tersebut, Tulus malah balik dikejutkan oleh rekaman video persembahan Teman Tulus. “Habis ini jangan ada kejutan lagi, ya. Awas, lho,” seloroh Tulus begitu menerima sebuket bunga dari para penggemar.

Kejutan lain Tulus berikan melalui eksplorasi genre pada tembang Tuan Nona Kesepian. Nuansa pop-jaz pada lagu tersebut digubah dengan sentuhan country oleh para musikus pengiring. Permainan tersebut bertahan pada lagu-lagu berikutnya, bahkan saat Tulus turun panggung untuk mengambil jeda. Namun, antusiasme yang datang dari penonton sama sekali tak surut.

Dengan setelan baru, Tulus melanjutkan konser dengan suasana lebih tenang dan intim lewat Teman Hidup dan Bengawan Solo. Tembang-tembang tersebut sepertinya sudah disiapkan untuk menyambut Ratu Keroncong Indonesia, Waldjinah, yang tampak elegan dalam kebaya hitam beraksen magenta. Walau sang legenda harus diantar dengan kursi roda, kemampuan tarik suaranya tetap sanggup meluluhkan hati.

“Sejak kali pertama mendengar suara Ibu Waldjinah, saya langsung terpukau,” ujar Tulus saat menceritakan kesannya terhadap sang maestro. Sejenak, kemeriahan Konser Monokrom berganti syahdu kala Waldjinah dan Tulus berduet dalam Semusim—tembang yang dulunya dinyanyikan bersama mendiang Chrisye.

Permainan Cantik dari Tim Tata Cahaya

Salah satu elemen yang membedakan Konser Monokrom Tulus dari pertunjukan sebelumnya adalah suguhan tata cahaya dari Indonesia Lighting Project. Setiap lagu memiliki karakter pencahayaan berbeda, termasuk untuk Pamit yang ditaruh menjelang akhir konser. Tulus juga tak segan tampil bak siluet pada nomor Jangan Cintai Aku Apa Adanya.

Pada paruh terakhir pertunjukan, permainan cahaya kian menggila kala Sewindu dan Lagu untuk Matahari ditampilkan. Sebagai tembang pamungkas, Manusia Kuat yang spesial Tulus bawakan bersama Glorify the Lord Ensemble berhasil memancing sejumlah penonton turun ke lantai untuk turut bersorak. Senyum yang tak lepas dari wajah Tulus semakin mengembang saat dia menghampiri penonton sembari menuruni panggung sebelum hilang dari jarak pandang.

Mempersembahkan lebih dari 20 lagu selama 2,5 jam, Tulus tak hanya berhasil menghibur, tetapi juga menjamu para penonton di ‘rumah’nya dengan baik. Lantas, seperti yang diutarakan pada Tergila-gila, Konser Monokrom Tulus mungkin saja bukan pagelaran musik pertama, tetapi bisa jadi yang paling menarik.

Ditulis oleh Erlin Natawiria
Erlin sudah menghasilkan tiga buku yang berjudul Athena: Eureka, The Playlist, dan Lara Miya

Tags
Show More

Related Articles

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker
%d bloggers like this: