Stage Review

Kampoeng Jazz 2018: Satu Dekade Dengan Berdisko!

Kampoeng Jazz, helatan tahunan milik Fakultas Hukum Universitas Padjajaran,  memasuki satu dekade usianya atau tepat sepuluh kali penyelenggaraanya sejak kali pertama di gelar tahun 2008 silam. Masih berlokasi di Kampus Universitas Padjadjaran, Dipatiukur, Bandung, Sabtu (28/5) lalu, mereka tetap hadir dengan konsep dua panggung seperti tahun-tahun sebelumnya.

Sayangnya, tahun ini merupakan penyelenggaraan dengan layout dan alur penonton yang paling tidak nyaman jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Area parkir yang minim, penerangan di area antrian, serta signage dalam venue nampaknya harus menjadi beberapa catatan bagi penyelenggara. Selain kecakapan komunikasi para petugas media handler yang beberapa tahun ini sering bermasalah sekalipun dengan media partner. Dengan animo penonton yang setiap tahun bertambah, mungkin, sudah saatnya juga memikirkan venue lain atau setidaknya membatasi jumlah penonton.

Terlepas dari beberapa catatan di atas, jalannya acara berlangsung cukup megah. Sepuluh tahun memang bukan pencapaian yang biasa-biasa saja untuk sebuah festival yang berawal dari acara kampus. Butuh kerja keras dan konsistensi. Selayaknya sebuah perayaan besar lainnya, line up yang mereka hadirkan kali ini juga tidak main-main. Unit psychedelic-soul asal Los Angeles, Amerika Serikat, The Marias serta Christian Berishaj multi-instrumentalis asal Michigan yang lebih dikenal dengan nama panggung JMSN mereka hadirkan.

Tak kalah mentereng, sejumlah nama besar tanah air juga menghiasi helatan ini. Menemani sore yang cerah, Nonaria, yang terdiri dari tiga orang wanita dengan pengaruh musik era 40 dan 50-an yang hangat dengan lirik ceria, berhasil mencuri perhatian penonton meski panggung utama menghadirkan duo akustik paling populer milik Filipina, MYMP.

Membuka malam, Teza Sumendra berhasil mengajak penonton untuk mengulang koor masal. Beberapa hits seperti “I Want You, Love”, “Real Love”, dan “Satu Rasa” cukup untuk menghangatkan suasana. Sementara di panggung kedua, Monita Tahalea hadir dengan suguhan yang lebih intim. Salah satu yang menarik pada Sabtu malam kemarin adalah penampilan dari Barsena Bestandhi. Ia membuat tribute untuk Chrisye dengan membawakan beberapa hits milik legenda pop Indonesia tersebut. “Lilin-lilin Kecil” dan “Serasa” digubah sedemikian rupa tanpa terkesan cheesy atau berlebihan.

Jika ada yang harus diapresiasi lebih dari gelaran Kampoeng Jazz 2018 kemarin, adalah tim acara dan show management mereka, tanpa mengecilkan pekerjaan tim lain yang terlibat  tentunya. Mereka berhasil bersiasat dengan rundown dan pengisi acara, cukup membuat nyaman tanpa membuat tergesa-gesa penonton. The Marias dan JMSN adalah dua dari sekian banyak penampil yang paling ditunggu. Dengan jeda sekira 40 menit penonton yang hadir dan ingin menyaksikan keduanya memiliki cukup waktu untuk berpindah panggung. “I Dont Know”, “Dejate Llevar” menjadi highlight dari The Marias yang direspon cukup meriah oleh penonton yang hadir. Seakan tak mau kalah, JMSN pun hadir dengan beberapa hits-nya seperti “So Badly” dan “Be A Man”.

Berdisko!

Tak lengkap rasanya merayakan pencapaian satu dekade tanpa pesta yang meriah. Kecermatan panitia memilih penampil kali ini juga patut diacungi jempol. Kehadiran Diskoria Selekta, yang merupakan duo DJ terpanas di skena saat ini dipilih sebagai penampil puncak menjadi nilai plus lainnya. Penampilan mereka makin lengkap dengan kolaborasi apik bersama salah satu musisi legenda Indonesia, Fariz RM. Kolaborasi mereka belakangan memang selalu menjadi suguhan menarik di berbagai event.

Kombinasi antara Merdi Simanjuntak, Fadli Aat, dan Fariz RM ini yang justru menjadi penanda puncak perayaan satu dekade event jazz kebanggaan mahasiswa Universitas Padjajaran ini. Bagaimana tidak, meski tampil di panggung ‘kedua’ dan hampir bersamaan dengan D’essentials Of Groove yang merupakan kolaborasi apik lainnya dari dua band besar Indonesia, jutru banyak penonton yang memilih menyaksikan penampilan mereka. Setlist berisikan musik disko, pop, dan funk lawas asli Indonesia berhasil membius penontonton untuk berdisko seakan berada di lantai dansa. Cukup mengejutkan memang, nomor-nomor seperti “Serasa” ,”Khayal”, hingga “Sakura” dan “Selangkah Ke Seberang” mampu membuat koor masal yang lantang. Mengingat jika melihat demografi penonton yang hadir mayoritas berusia jauh lebih muda dari usia lagu-lagu di atas.

Raut muka penonton yang hadir pun menggambarkan rasa puas, melepas rutinitas dengan pesta yang pantas. Menyambut keriaan satu dekade dengan berdisko, menerabas batas usia yang bias. Memasuki perhelatan yang kesepuluh ini, nampaknya panitia harus terus berusaha melakukan pembenahan terhadap detil teknis pelakasanaan. Meski demikian, Kampoeng Jazz nampaknya masih akan terus menjadi salah satu event paling di tunggu pada tahun-tahun berikutnya. Semoga!

 

Ditulis oleh @irfan_nasution

Show More

Related Articles

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker
%d bloggers like this: