Stage Review

Folk Music Festival 2018 Jadi Ajang Pertemuan Banyak Musisi

Folk Music Festival merupakan festival tahunan yang tahun ini memasuki tahun keempatnya. Acara ini pertama kali diadakan pada tahun 2014 lalu yang bertempat di Surabaya Town Square.

Tiba pada gelarannya yang keempat, kawasan kota Batu kembali dipilih menjadi lokasi acara Folk Music Festival 2018. Mengusung tema ‘Bicara Tentang Pertemuan’, festival ini mencoba menyajikan pertemuan demi pertemuan yang disajikan lewat musik yang dihadirkan. Dalam arti lain, lewat acara ini penyelenggara berusaha untuk mempertemukan satu sama lain untuk saling melepas rindu sembari menikmati sajian musik.

Berbicara tentang pertemuan, pada hari pertama penonton disuguhkan oleh kolaborasi dari Adrian Yunan dan Is Pusakata. Mereka membawakan nomor ‘Mainan’. “Lagu ini menjadi pengiring saat saya mengantarkan anak pergi ke sekolah,” kata Is di sela membawakan lagu. Is juga menambahkan bahwa ada banyak hal-hal yang melankolis dari lagu itu, hingga mengingatkan akan kedekatannya dengan anaknya.

Daramuda Project menjadi salah satu penampil spesial yang begitu ditunggu-tunggu. Selepas Rara Sekar memutuskan untuk membubarkan bandnya terdahulu, Banda Neira, ia kembali berkarya dengan Daramuda Project bersama Danilla Riyadi dan Sandrayati Fay. Folk Music Festival sekaligus menjadi panggung perdana bagi mereka bertiga. Walau tampil dengan sedikit grogi, ketiganya pun tampil asyik dengan menyajikan tembang berjudul ‘Salam Kenal’ dan ‘Sejauh Mata Memandang’. Mereka juga melakukan improvisasi dengan membawakan lagu milik Jason Ranti yang berjudul ‘Variasi Pink’.

Selain itu, hadir pula Danilla bersama Sigit Pramudita dari Tigapagi, keduanya membawakan ‘Entah Ingin Kemana’. Lagu tersebut merupakan wujud dari keinginan Danilla untuk menyertakan suara Sigit dalam album ‘Lintasan Waktu’ miliknya. Tak lama berselang, giliran Tigapagi yang bernyanyi bersama Danilla membawakan ‘Ingin Tidur Bersama’.

Tak mau memberikan penampilan yang biasa saja, Sigit kemudian meminta seseorang untuk membawakan salah satu lagu milik Tigapagi. Ia pun mendaulat Cholil Mahmud dari Efek Rumah Kaca untuk memainkan ‘Pasir’. Lagu yang mereka ciptakan bersama kemudian dinyanyikan untuk pertama kalinya oleh Cholil di panggung Folk Music Festival.

Pada puncak acara, Efek Rumah Kaca didapuk untuk menutup gelaran Folk Music Festival hari pertama. Kehadiran Efek Rumah Kaca dirasa menjadi penawar rindu, sebab Efek Rumah Kaca dipertemukan kembali dengan Adrian Yunan. Ketika nama Adrian disebut oleh Cholil, penonton terlihat begitu antusias sembari bersorak. Beberapa nomor hits dari album Efek Rumah Kaca terdahulu dibawakan hingga nomor-nomor yang ada di album ‘Sinestesia’.

Ragam sajian yang dihadirkan di hari pertama Folk Music Festival memberikan sebuah esensi tentang betapa pentingnya pertemuan.

Berdansa Bersama WSATCC

Seusai menyajikan pertemuan-pertemuan mengharukan di hari pertama. Folk Music Festival melanjutkan sajiannya pada hari kedua. Berbeda dengan tahun lalu, yang hanya menggelar pertunjukan selama satu ahri saja. Walau cuaca dingin masih menyelimuti, namun siang itu banyak sekali kejutan yang disajikan.

Wake Up Iris memberikan sajian berbeda, atas permintaan para penonton, duo yang beranggotakan Bie Paksi dan Vania Marisca ini turun dan bermain di bawah stage agar bisa berbaur bersama. Wake Up Iris! kemudian membawakan nomor-nomor lagu yang terdapat di EP ‘Aerola’. Setelah pertunjukan keintiman nan atraktif dari Wake Up Iris, Haikal Azizi dengan alter egonya, Bin Idris pun melanjutkan penampilan. Pada tahun keduanya ini, Bin Idris ditemani oleh gitaris Rajin Sihombing. Bin Idris lalu membawakan nomor-nomor di album ‘Self Titled’ dan album barunya ‘Anjing Tua’. Suara khas Haikal yang berbalut petikan-petikan gitar membuat suasana venue menjadi semakin syahdu di tengah dinginnya kota Batu.

Tiba giliran solois Jason Ranti yang mengambil alih panggung. Disambut dengan tepuk tangan meriah, ia pun naik ke panggung. Jeje, sapaan akrabnya memulai set dengan nomor lagu ‘Suci Maksimal’. Suasana pun seketika dibuat haru oleh Jeje, ia membawakan musikalisasi puisi berjudul ‘Lagunya begini Nadanya begitu’ untuk mengenang Ari Malibu, rekan duet Reda Gaudiamo yang sudah berpulang lebih dulu. Rest In Peace untuk Ari Malibu.

Bersambung setelah itu, Reda Gaudiamo pun mengambil kendali panggung. Ada rasa sedih ketika melihat Reda tidak lagi bersama pasangan bermusiknya, Ari Malibu. Kali ini Reda ditemani oleh Gita Rahma pada vocal, untuk membawakan semua musikalisasi puisi dan diiringi oleh Andie JP pada piano. Reda membawakan beberapa musikalisasi puisi dari album ‘Menyanyikan Puisi’ dan ‘Suara dari Jauh’. Momen puncak terjadi ketika ia membawakan lagu ‘Hujan Bulan Juni’, Reda terlihat tidak bisa menahan haru dan meneteskan air mata saat menyanyikan lagu ini. Suasana pun dibuat haru, tetapi Reda tetap melanjutkannya diiringi dengan bantuan penonton yang hadir. Mereka kemudian ikut bernyanyi untuk menuntaskan lagu ‘Hujan Bulan Juni’.

Pada malam harinya, Pohon Tua, project solo dari Dadang Dialog Dini Hari dan Navicula ini tampil membawakan materi album dari pertamanya ‘Kubu Carik’. Setelahnya diikuti oleh penampilan Fourtwenty dan Mondo Gascaro yang mengundang koor massal penonton.

Tiba juga di penghujung acara, band asal Ibukota, White Shoes and The Couple Company membuat penonton berdansa untuk berpesta di malam yang dingin. Band yang beranggotakan Aprilia Apsari (vocal), Ricky Virgana (bass/cello), John Navid (drum), Aprimela Prawidiyanti (piano), Saleh (gitar elektrik), dan Yusmario Farabi (akustik gitar). WSATCC membawakan nomor-nomor lagu yang bisa membuat penonton menari dan berdansa, seperti ‘Lembe-lembe’, ‘Masa Remadja’, hingga ‘Windu Defrina’. Penonton pun kemudian ikut bernyanyi dan menari bersama untuk menghangatkan suasana. Dansa malam itu diakhiri oleh nomor hits milik WSATCC, ‘Kisah dari Selatan Jakarta’.

Tuntas sudah kita menceritakan tentang pertemuan demi pertemuan. Namun, untuk sementara waktu kita harus berpisah sejenak bersama kehangatan Folk Music Festival 2018 yang tak mudah dilupakan. Sampai bertemu di Folk Music Festival 2019!

Tags
Show More

Insan Kamil

Music Photographer est 2016 - life in passion.

Related Articles

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker
%d bloggers like this: