Stage Review

Cosmo Sound Vol 1: Mengenal Lebih Dalam Music Rock

 

“Jangan mengharapkan tunjangan dari Pemerintah.” Begitu ucap Benny Soebardja dalam acara Cosmo Sound Volume 1 yang diselenggarakan tanggal 5 April 2018 di Spasial, Bandung. Acara ini dimulai dengan sesi diskusi mengenai Indo-Rock antara Benny Soebardja (Sharkmove, Giantstep), Rekti (The Sigit, Mooner), Absar Lebeh (The Slave, Mooner) dan Idhar Resmadi.

Walaupun sesi diskusi mundur dari jam yang sudah ditentukan, penonton disuguhi bahasan berbobot dan langka karena bisa mendengarkan langsung mengenai musik rock 70an dari salah seorang pelakunya yang masih  bermusik hingga saat ini. “Musik rock bikin awet muda,” tutur Om Benny sembari menjelaskan salah satu alasannya tetap bermusik. Banyak cerita yang mengalir pada diskusi kali ini, salah satunya adalah mengenai penggunaan bahasa Inggris pada beberapa lagu sebagai kritik terhadap pemerintah pada masa itu. Hal ini sengaja dilakukan untuk menghindari sensor.

Rekti yang merupakan vokalis & gitaris The Sigit bercerita panjang lebar mengenai sejarah dia terjun masuk ke dunia musik. Tumbuh dari keluarga yang suka musik, beberapa diantaranya bahkan pemain musik. Salah satunya adalah Delly Joko Arifin, atau yang lebih dikenal sebagai Delly Rollies. Beliau adalah pamannya, yang sempat menjadi teman diskusinya. Beliau tidak hanya bercerita tentang musik tahun 70’an, tapi juga kultur hingga cerita-cerita yang tidak semua orang ketahui. Berangkat dari itu, Rekti memiliki kegelisahan karena tidak semua orang memiliki akses seperti dirinya, yang bisa langsung ngobrol dengan orang yang ada dalam lingkup musik saat itu. “Karena kita hanya mengandalkan cerita orang pertama. Maka selanjutnya akan hilang,” ujar Rekti.

Absar Lebeh adalah seorang gitaris yang lebih dulu dikenal sebagai seorang Skateboarder. Pemuda asal Padang ini mengenal Rekti di lingkup pertemanan skateboard. Keduanya lantas bermain musik bersama hingga membentuk sebuah band bernama Mooner. Ada banyak hal yang bisa digali pada diskusi kali ini, namun sayang waktu yang terbatas menjadi kendala. Sebagai penutup sesi diskusi, Om Benny berpesan kepada para musisi agar memiliki prinsip dalam bermusik, “dengan memiliki prinsip dalam bermusik, orang akan menghargai dalam waktu panjang.”

Setelah sesi diskusi berakhir, Lamebrain memulai sesi showcase. Band asal Bandung ini memulai set dengan memainkan nomor “Leggless Beggar”. Band yang terbentuk sejak tahun 2012 memainkan musik bergaya hardrock dan psychedelic. Malam itu mereka tampil dengan membawa lima lagu dan “Ace Kombat” menjadi lagu terakhir.

Giant Step pun tampil, band yang terbentuk di Bandung tahun 1973 telah menjadi influence bagi banyak band di Indonesia. Band ini bisa dibilang sebagai salah satu pionir pada genre Progressive Rock. Personil terakhir mereka adalah Rhama (Drum), Jordan (Guitar), Debby Nasution (Keyboard) Benny Soebardja (Gitar Vocal), dan Audi (Bass). Pada pertunjukan ini mereka memainkan lagu baik dari album lawas Evil War, hingga lagu yang berjudul sama dengan album terakhir mereka yang berjudul Life’s Not The Same.

Mooner sendiri tampil sebagai penutup. Membuka pertunjukan dengan nomor “Sang Pemburu” penonton dibuat mendekat ke bibir panggung. Tidak adanya barikade menyebabkan jarak antara penonton dan pemain band menjadi lebih intim. Penonton larut dengan energi yang dibawakan oleh Mooner. Nomor-nomor dari album Tabiat juga dibawakan oleh Mooner, seperti “Sang Pemburu”, “Hei”, dan “Ingkar”.

 

Tags
Show More

Insan Kamil

Music Photographer est 2016 - life in passion.

Related Articles

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker
%d bloggers like this: