Nulis MusikStage Review

Cita Rasa Barok di Tanah Batavia

World Premiere Tour : XVIII - Le Baroque Nomade

Jakarta – Kelompok XVIII – Baroque Nomade, sebuah ensembel asal Prancis, berkolaborasi dengan musisi-musisi lokal besutan Franki Raden di Usmar Ismail Hall, Jakarta Selatan, pekan lalu Kamis, 15 Maret 2018. Seperti namanya, grup yang digawangi Jean-Christophe Frisch Cs adalah ensembel dengan spesialisasi musik Barok.

Musik barok adalah musik klasik ala barat yang digubah pada kisaran tahun 1600-1750, dengan tokoh antara lain Johann Sebastian Bach dan Antonio Vivaldi. Pada era itu, piano belum ditemukan. Alat musik tekan pada era itu adalah hapsicord yang suaranya menyerupai gitar atau alat musik petik lainnya.

Mendengarkan musik barok mengantarkan bayangan saya ke film-film bertema kerajaan yang jadi favorit saya. Terbayang dandanan para bangsawan eropa pada masa itu dengan kumis dan rambut yang begitu fancy. Pada era itu, kerajaan-kerajaan eropa tengah melakukan eksplorasi ke mana-mana.

Sekitar tahun 1600-an pula Indonesia disinggahi oleh mereka. Pada masa itu, Portugis dan VOC (Verenigde Oostindische Compagnie) datang ke tanah air. Singgahnya kumpeni pada waktu itu ternyata juga meninggalkan jejak-jejak seni, salah satunya adalah musik barok a la Asia yang disebut Batavia Baroque.

Pada pertunjukkan ini, ada beberapa repertoar Batavia Baroque yang dibawakan oleh Le Baroque Nomade, misalnya gubahan Sjir segala mazmur Daud pada 1735 yang berjudul Mazmur yang Pertama/Psaume 1. Komposisinya sangat eropa. Eropa klasik tepatnya, dengan bebunyian alat musik yang khas seperti flute, lute, gitar renaissance, epinette, bas viol serta olah vokal soprano dan tenor. Namun, liriknya lah yang katanya dibikin lebih Asia.

Selepas beberapa repertoar musik ala bangsawan itu mengalun, gerombolan Franki Raden datang dan menguasai panggung. Mereka menghentak dengan Voice of Diversity-nya. Alat musik yang mereka pakai rata-rata tetabuhan, seperti taganing, gong, rebana, bedug, kendang, suling, sasando, dan alat musik tradisional lainnya.

Berbeda dengan musik eropa yang cenderung mengalun dan elegan bak bangsawan eropa, musik a la Indonesia ini lebih lincah dan mengentak. Kalau saya bilang mungkin agak progresif. Saya jadi teringat grup musiknya Guruh Soekarnoputra, Guruh Gypsy.

Yang saya suka, suara gebukan pada alat musik tabuh yang saling bersahutan dan berbeda-beda. Suara tabuhan tiga set rebana mengingatkan saya pada iringan untuk tarian masyarakat Arab-Betawi.

Saat membayangkannya, seketika ketipang ketipung kendang ala sunda berbunyi. Belum lagi alat musik yang lain. Mungkin ini lah yang maksudnya Voice of Diversity.

Hal menarik lainnya adalah dalam ensembel ini, Franki Cs malah mengedepankan suara tetabuhan. Biasanya dalam beberapa ensembel, gamelan atau kolintang menjadi pilihan sebagai alat musik yang paling ditonjolkan.

Hanya satu lagu berselang, Le Baroque Nomade naik lagi, dua grup ini pun melebur. Ternyata asyik juga. Musik yang kalem tiba-tiba ada gedebak gedebuk di belakangnya. Secara subjektif, saya menikmatinya. Sebab, saya memang penikmat musik-musik bergenre progresif macam ini.

Berbeda dengan ensembel a la Jerman yang selalu membuat saya mengernyitkan dahi, duet ensemble ini begitu cair, asyik, dan dinamis. Bahkan saya masih tak rela ketika mereka merampungkan repertoar terakhir dan meninggalkan panggung.

(Caesar Akbar, penikmat pertunjukan cuma-cuma)
Tags
Show More

Insan Kamil

Music Photographer est 2016 - life in passion.

Related Articles

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker
%d bloggers like this: