Rock Updates

Lover: Perayaan Diri dalam Pesta Pastel dari Taylor Swift


Beberapa jam setelah Lover dirilis, saya sedang berada di tengah perjalanan menuju Dago. Death by a Thousand Cuts melantun dari earphone. Konsep lagu ini mengingatkan saya pada All You Had to Do Was Stay: sebuah lagu mid-tempo dengan lirik yang, persis seperti judulnya, menyayat pilu. “I see you everywhere, the only thing we share is this small town,” ujarnya di tengah petikan gitar.

Keesokan harinya saya menemukan fakta Taylor Swift menulis karena terinspirasi Someone Great, salah satu film orisinal Netflix. Namun, bukan hal trivial itu yang membuat saja jatuh hati pada Death of a Thousand Cuts. Taylor sepertinya punya ikatan khusus dengan tempat-tempat yang pernah dia tempati atau sekadar disinggahi. 

Kasus ini terjadi lagi dalam Cornelia Street, tembang self-written yang dimibalut dalam sentuhan synth-pop. Taylor secara signifikan mengutarakan kegelisahannya selama menetap di sebuah apartemen di New York. Di waktu lain, saya diguyur kenangan selama mendengarkan lagu ini dalam perjalanan pulang dari Dago. 

I get mystified by how this city screams your name,” katanya lirih, “I’d never walk Cornelia Street again.” Pada detik berikutnya saya termenung cukup lama di trotoar. Cornelia Street memang bukan lagu patah hati, tapi saya kira setiap orang punya setidaknya satu jalan yang mengingatkan mereka pada masa lalu.

Di tengah penulisan draf ulasan, saya menyadari satu hal: ah, mungkin faktor ini juga yang membuat saya terpikat dengan lirik-lirik naratif yang Taylor rangkai selama 10 tahun terakhir. Kami senang menyimpan kenangan di tempat-tempat tertentu, lalu membiarkannya melebur bersama langkah orang-orang yang menjejakinya.

Taylor Swift memulai era baru untuk album ketujuhnya pada Februari 2019.

Saya, yang pada saat itu baru menuntaskan naskah yang lumayan berat, memantau antusiasme para penggemar yang berusaha memecahkan setiap petunjuk dalam foto-foto yang Taylor unggah di Instagram. Sejujurnya, saya tidak berekspektasi terlalu tinggi. Namun, kala Taylor resmi menggelar perayaan bersama Brendon Urie, vokalis Panic! At the Disco, lewat ME!, saya meledak. Optimisme yang Taylor dan Brendon tampilkan bukan sesuatu yang saya bayangkan dari Lover.

Taylor Swift bukan lagi sang America’s Sweetheartjulukan yang sempat disematkan di awal kariernya sebagai penyanyi country atau ratu ular setelah perseteruannya dengan Kim-Kanye West menggemparkan dunia maya pada 2016. Jika era sebelumnya sarat akan letusan amarah dan kekecewaan, maka Lover menawarkan sprektum warna yang penuh akan kebahagiaan.

Bak kupu-kupu, Taylor lebih bebas mengungkapkan perasaan dan opininya. Sikap tersebut langsung dinyatakan dalam I Forgot that You Existed. “Got out some pop corn, as soon as my rep going down,” sindirnya pada orang-orang yang selama ini berupaya menyantuhkannya. Judul berikutnya, Cruel Summer, adalah lagu pop bersalut indie-rock yang Taylor tulis bersama Jack Antonoff dan Annie Clark (St. Vincent). Menilai dari durasi hingga dinamika liriknya (I love you, ain’t that the worst thing you ever heard?), tembang ini punya potensi yang sama besar dengan Blank Space bila dijadikan sebagai salah satu single.

Produksi solid hasil campur tangan Jack Antonoff (Fun, Bleachers, Red Hearse) bukanlah hal aneh mengingat Taylor pernah menggandengnya untuk menggarap 1989 dan reputation. Dalam Lover, mereka menghadirkan sejumlah lagu lintas genre. Dari pop-punk 90-an (Paper Rings), pop-funk ala Prince (I Think He Knows),hingga jaz dan R&B (False God).

Semakin dalam menggali Lover, semakin banyak hal baru dan menarik yang saya temukan. Sebut saja absennya Max Martin dan Shellback di jajaran produser dan digantikan Joel Little (Lorde, Khalid, Imagine Dragons) dalam lagu-lagu yang membebaskan Taylor Swift dari imej gadis lugu. Misalnya saja You Need to Calm Down yang mengundang kontroversi karena kelantangan Taylor sebagai ally komunitas LGBTQ+. Ada pula curahan unek-uneknya sebagai feminis lewat The Man sampai pandangan politik yang dikemas dalam metafora kehidupan SMA dalam Miss Americana & The Heartbreak Prince.

Meski begitu, Taylor masih menunjukkan keunggulannya sebagai penulis lagu dengan lirik-lirik personal. Soon You’ll Get Better, yang Taylor dedikasikan bersama Dixie Chicks untuk sang ibu, mengusung genre country ballad yang akan membuat penggemar bernostalgia. Kemudian ada Lover yang tanpa diragukan bakal masuk daftar lagu pernikahan dalam beberapa bulan ke depan. Sementara Afterglow adalah bentuk kedewasaan yang mematahkan anggapan bila Taylor selalu mengeluarkan kartu victim playing kala berhadapan dengan masalah.

Bukan hal sulit untuk merasa dekat dengan lagu-lagu Taylor Swift, tetapi 18 lagu dalam Lover membawa saya pada pengalaman baru. Sikap defensif yang selalu muncul pada album-album sebelumnya berubah menjadi penerimaan pada kenyataan hidup. Di sisi lain, Taylor tak akan membiarkan siapa pun menghancurkan kebahagiaannya, entah dari haters yang rutin menyerangnya di media sosial atau pengkhianatan dari orang-orang yang dulu begitu dia percaya. Seperti yang diutarakannya pada Daylight, “I wanna be defined by the things that I love, not the things I hate.

Penulis : Erlin Natawira



Tags
Show More

Related Articles

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker
%d bloggers like this: