Nulis Musik

Nyanyian Anak Bintang, dan Model Baru Penciptaan Musik Anak

 

Membicarakan konteks perkembangan tentang musik anak, terutama pasca 2000’an dirasakan menghilang baik itu dari karya maupun industri musik,  berbeda dengan decade 90’an yang dirasa akses mengenai musik anak sangatlah mudah ditemui melalui media-media terutama media televisi, dengan program anak atau music anak. Arus perkembangan musik pop melayu dirasa membawa pengaruh juga terhadap penurunan kesempatan music anak untuk berkembang, terutama melalui jalur festival musik anak, yang selama periode 2000 hadir, tetapi yang kita ketahui konten lagu didalamnya justru menyanyikan lagu dewasa bukan lagu anak-anak.

 

Keresahan lalu muncul dengan tidak adanya lagu yang otentik diciptakan oleh atau untuk anak-anak. Di masa sekarang sebagian lagu anak yang diperdengarkan masih dominan dari masa musik  tahun 70-90an. Memang tidak bisa menyangsikan, bahwa karya lagu anak ditahun-tahun tersebut tidak lekang oleh waktu. Lambatnya  regenerasi yang konsen terhadap music anak mungkin menjadi salah satu faktor kurangnya keberadaan music anak setelah tahun-tahun tersebut.  Karya musik anak yang baru dan segar juga perlu ada, dan mendapatkan perhatian yang sama dengan genre music lainnya.

 

Kondisi Musik anak terbilang cukup diskriminatif, karena dilihat baik oleh media bukan sebagai kebutuhan maupun oleh industry atau label ini bukan sebagai hal yang mendapatkan provit. Hal utama yang dirasakan tidak hadir dalam musik anak dimasa sekarang adalah peran Aranger musik anak, kita mengetahui dulu pernah memiliki arranger musik anak sekelas Papa T Bob, Pak AT Mahmud, Pak Kasur dan Bu Kasur, Ibu Sud,dsb. Keberadaan generasi muda  penerus mereka dirasa lambat bahkan bisa dibilang belum muncul kembali.

 

Di era sekarang keberadaan musik anak muncul dari, Ikhsan Skuter, White Shoes and Couple Company, dan beberapa musisi dewasa sempat membuat edisi khusus tentang musik anak, tetapi polanya sendiri bisa terbilang lagu anak yang diciptakan oleh orang dewasa. Berbeda dengan anak-anak Rumah Bintang dengan  Nyanyian Anak Bintang, Baya (Mr. Sonjaya) sebagai arranger melakukan sebuah pola baru dalam penciptaan lagu anak, pola ini melibatkan anak-anak itu sendiri dalam workshop penciptaan album. Dries, Kaisyha, Tri, dan Davi, diajak langsung dalam proses kratif penciptaan musik “Nyanyian Anak Bintang” ini sendiri, mulai dari lirik maupun isi musiknya. Seperti yang dituturkan oleh Baya, Album Nyanyian Anak Bintang ini berisi 9 lagu ciptaan mereka sendiri dan satu lagu cover dari Deugalih yang berjudul Nelayan.  Isi dari dalam 9 lagu di album ini sendiri sebagian besar diangkat dari cerita keseharian anak-anak itu sendiri, contohnya seperti keadaan macet jalanan kota yang sering mereka temui ketika mereka akan berangkat ke sekolah.

 

Proses kreatif yang dilakukan oleh Baya dan anak-anak Rumah Bintang menjadi sebuah hal yang bisa dikembangkan dalam penciptaan musik anak di masa sekarang, dengan melibatkan langsung anak-anak dalam proses penciptaan lagu, berimajinasi ala anak-anak dalam lirik maupun isi dari musiknya. Hal ini akan memberikan suatu warna musik anak yang baru, musik yang memang memiliki warna dan karakter dari anak-anak.

 

Keberadaan pola/metode penciptaan lagu dan arranger ini sendiri diharapkan dapat membuat sebuah perkembangan music anak di era milenial seperti ini. Keberadaan musik anak mestinya mendapatkan tempat baru dalam ekosistem musik itu sendiri sebagai sebuah kebutuhan, baik itu sebagai kebutuhan berkarya, industry maupun edukasi.

Show More

Insan Kamil

Music Photographer est 2016 - life in passion.

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker
%d bloggers like this: