Nulis Musik

Musik Sebagai Media Pembelajaran dan Perjalanan Menjadi Manusia

Kulihat awan seputih kapas/ Arak berarak di langit luas/ Andai kudapat ke sana terbang/ Akan ku raih/ Ku bawa pulang

Penggalan lirik lagu “Awan Putih” karya Bapak A.T Mahmud tak pernah lekang dimakan waktu. Begitu indah, penuh daya imajinasi, dan menyiratkan rasa syukur serta kebahagiaan. Begitulah seyogyanya musik meramu nada, lirik, dan ritmik. Sehingga menghasilkan keajaiban yang menyusup ke dalam jiwa. Musik yang baik pasti akan terekam dalam ingatan dan perasaan, membawa kita pada suasana ataupun pengalaman yang tak terlupakan. Tak salah jika musik dimanfaatkan sebagai  media belajar yang dapat membuka begitu banyak pemahaman baru.

Kecintaan  yang amat besar terhadap musik serta pengalaman mengajar selama tiga tahun membuat saya semakin percaya bahwa musik memang memiliki keajaiban tersendiri. Saya teringat pengalaman saat mencoba mengajak anak-anak bergabung dalam lingkaran, berkali-kali saya berteriak namun tidak ada satu pun yang mendengar dan mereka malah semakin ribut. Namun ketika saya menyanyikan lagu “Buat lingkaran/ buat lingkaran/ buat lingkaran” seketika mereka semua membentuk lingkaran dengan rapi. Begitu juga saat mempelajari nama hari, bulan, angka, dan banyak lagi, anak-anak dari usia 3-5 tahun akan lebih cepat menangkap jika materidisampaikan lewat lagu dengan nada riang yang sederhana.

Lebih jauh lagi kadang saat di kelas saya sering mengajak anak-anak menafsirkan atau mencari tahu makna dari suatu lagu. Suatu hari saya meminta anak-anak menafsirkan lagu Buih milik Bapak A.T Mahmud, mari kita perhatikan liriknya “Menderu suara ombak/ Berdesir tiba di pantai/ Buih-buih riuh bergerak/ Di pasir lenyap berderai”. Lirik yang penuh dengan metafora dan notasi nada yang diciptakan oleh Bapak A.T Mahmud juga dibuat mengalun. Dari lagu tersebut, anak-anak memiliki banyak penafsiran yang lucu dan menarik. Berikut salah satu penafsiran yang paling berkesan, “Jadi kita tuh kalo hidup ya santai aja jangan kaya Mama sama Papa kita selalu buru-buru. Buih aja dari tengah laut bisa sampai ke ujung pantai karena kedorong-dorong.” Lagu-lagu anak bahkan tidak hanya mengajarkan Matematika atau cara membaca tapi banyak pengalaman filosofis lainnya dalam kehidupan.

Saya juga senang mengajak anak-anak bereksplorasi menciptakan lagu dan ajaibnya lagi anak-anak adalah pencipta lagu yang paling ulung. Kita orang dewasa terkadang berusaha ingin membuat lagu dengan lirik puitis dan indah namun kadang lupa akan makna. Berbeda dengan anak-anak, mereka melempar kata dengan bebas, bersenandung tanpa takut apakah nadanya harus mayor ataupun minor dan dengan suka cita berkreasi menentukkan ritmik dengan perhitungan ketukan yang akurat. Pengalaman tersebut saya dapatkan setelah beberapa kali membuat lagu bersama anak-anak di tempat saya mengajar dulu dan juga saat membantu teman-teman Suara Anak Jendela Ide membuat sebuah mini album. Isi kepala mereka yang liar dan kepekaan nurani yang terjaga baik membuat mereka mampu menghasilkan lirik lagu yang sangat ajaib. Tema tentang apa saja bisa dengan bebas mereka ejawantahkan, sebut saja udara, gunung, kemacetan kota, teman yang senang bertengkar bahkan hingga kepiting, ah betapa liarnya ide yang mereka miliki.

Proses menciptakan lagu juga dapat menjadi media pembelajaran multi disiplin ilmu bagi anak-anak. Mereka dapat memperkaya kosakata lewat proses pembuatan lirik, mengasah musikalitas lewat penempatan nada yang tepat dengan lirik, melakukan perhitungan Matematika dengan cara menentukan ketukan yang pas dalam lagu tersebut, mempelajari tentang ilmu pengetahuan alam atau sosial jika lirik lagu yang dibuat mengangkat tema tersebut. Dan yang terpenting, belajar kedalaman kepekaan nurani agar mereka tumbuh menjadi manusia utuh yang terdidik. Ya, pendidikan seharusnya memang menciptakan manusia yang tumbuh seutuhnya.

Namun, tidak demikian untuk saat ini, karena sistem pendidikan konvensional dengan sengaja mengkotak-kotakan disiplin ilmu sehingga pelajaran seni yang seharusnya dekat dengan disiplin ilmu lainnya dipisahkan kemudian diberi ruang eksklusif dan cap bahwa hanya mereka yang berbakat yang dapat belajar dan mendalami seni musik. Hal ini yang membuat manusia Indonesia pada umumnya tumbuh menjadi sosok parsial begitu ahli pada bidang tertentu namun kepekaan nuraninya tidak terasah. Ini tentunya menjadi catatan penting bagi sistem pendidikan Indonesia kedepannya, kita bisa mencontoh nilai-nilai filosofi pendidikan yang diterapkan oleh Rudolf Steiner yang dikenal dengan sistem pendidikan Waldorf, dimana musik hadir hampir di setiap proses pembelajaran. Seperti siswa kelas 2 SD yang diajak mempelajari perkalian dengan cara membuat ketukan ritmik dengan bambu yang bahkan bambunya mereka potong serta ukur sendiri. Ya, seharusnya proses pembelajaran berjalan seutuh itu.

Hingga hari ini saya selalu percaya bahwa musik adalah sesuatu yang ajaib. Lewat frekuensi tertentu ia mengantarkan hal magis ke dalam hati, lewat lirik sarat makna ia menghantarkan pesan ke dalam pikiran. Maka dari itu, bagi saya yang pernah bekerja sebagai guru dan pencipta lagu, musik adalah media pembelajaran yang amat efektif untuk menyampaikan berbagai materi disiplin ilmu, karena dengan musik anak-anak lebih bersuka cita dalam mempelajari sesuatu hal. Hal tersebut dikarenakan musik ada begitu dekat dalam diri kita. Cobalah terdiam sejenak untuk menikmati hening dan rasakan detak jantung, maka kita akan menemukan ritmik terindah yang pernah ada di muka bumi.

Ditulis oleh Sarita Rahmi

Tags
Show More

Mentari Nurmalia

A writer who loves Hetfield. Sometimes in backstage, sometimes in frontrow

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker
%d bloggers like this: