Music Review

U La La: Sinyal Kebangkitan Muchos Libre

Pertama kali saya mendengar lagu “U La La” secara langsung terjadi pada tahun 2015 di Kanna Studio, Jalan Cikutra Baru No. 9 Bandung pada sebuah mini konser yang mengusung tema “Romusha”.

Pertunjukkan kecil yang digagas oleh Stuc Records ini sukses mengalirkan deras keringat para penonton, karena berdesakan di dalam studio musik yang sempit dan pengap. Tidak lebih dari 50 orang, secara bergantian penonton keluar masuk studio untuk menggantikan energi yang sudah terkuras dengan meminum air putih atau air kemasan yang sarat gula.

Saat itu personel Muchos Libre masih diisi oleh formasi Dilla a.k.a Bagong Tempur (vokalis), Dally a.k.a Korong Mentah (vokalis), Adie Emo (bass), Iky Kunjay (gitar), Nos Cikiwiw (gitar) dan Hilman (drum).

Sesungguhnya konser mini “Romusha” sarat dengan isu yang cukup serius, seperti yang tertera pada deskripsi konser pada linimasa Instagram Muchos Libre sendiri yaitu sebagai persembahan pada mereka yang dikebiri waktu, menampar diri di atas batas, menafkahi keluarga hingga hilang beberapa poin hak merasakan kemanusiaan. Terang, pesan ini ditunjukkan sebagai dukungan pada rencana kaum buruh yang akan melakukan aksi pemogokan massal pada tanggal 24-27 November 2015 yang menuntut kenaikan upah. Pada akhir konser, para penonton sumringah karena dibagi nasi bungkus punk rock gratis sebagai kompensasi kerelaan menonton konser mini mereka.

​Pasca ditinggal Dilla a.k.a Bagong Tempur pada tahun 2016 ke Jepang, Muchos Libre mengalami hibernasi yang cukup lama. Namun semangat ugal-ugalan yang sulit dibendung akhirnya mempertemukan mereka kembali dengan formasi yang lebih segar. Selain Dally (vokalis), Rizky (gitar) dan Hilman (drum) yang bertahan setelah beberapa pergantian personel, kehadiran Nizar Oktriyadi a.k.a Oky (bas) dan Ardian Aziz Oktriyana a.k.a Ade (gitar) yang merupakan former band Gorilla Trampoline mentransformasi warna musik Muchos Libre ke level yang lebih gahar, salah satunya dapat didengarkan lewat single “U La La”.

​Mengusung genre rock datang bulan, single “U La La” yang sempat dirilis pada tahun 2014 silam dalam bentuk download code semakin menguatkan semangat bermusik Muchos Libre yang menggila saat mereka datang bulan alias angin-anginan. Namun, geliat Muchos Libre mulai terlihat kembali dari penampilan mereka pada beberapa pertunjukkan hingga merilis reissue EP “Viva La Libre” (2013) yang dicetak terbatas sebanyak 20 keping CD di Joglo Beer Kemang pada 7 Desember 2018.

​Perilisan single “U La La” pada 25 Desember 2018 lalu diklaim sebagai kebangkitan Muchos Libre setelah tidur panjang selama 5 tahun. Band yang mengaku terpengaruh dari oldskull punk seperti Ramones, Bad Brains, Agnostic Front, Bad Religion, Minor Threat, hingga band lokal Teenage Death Star ini berhasil merilis single “U La La” melalui label Orange Cliff yang bekerja sama dengan Stuc Records dalam hal pendistribusian.

Single ini ditampilkan dengan artwork ciamik karya Dwikyaka yang menyajikan konsep dua ikon pegulat Muchos Libre, Dilla dan Dally. Rencananya, single “U La La” juga akan dirilis dalam format CD dan barcode streaming, menyusul dua single lainnya sebagai pengantar menuju full album Muchos Libre. Akankah Muchos Libre menghadirkan kejutan dalam rilisan dua single dan full album berikutnya? Semoga tidak terjebak dalam sajian “misteri box” yang akhir-akhir ini merajalela dalam lini penjualan rilisan fisik atau (sebut saja) sektor clothing.

Single “U La La” mengingatkan pada gimmick Syahrini sebagai sosialita papan atas yang gemar bikin sensasi. Dan bukan kebetulan belaka jika judul lagu “U La La” juga sudah banyak dipakai beberapa penyanyi luar negeri dengan beberapa variasi pelafalan semisal “Uh La La La” milik Alexia, Nacho & Mc Galaxy “Uh La La La”, Slade “Ooh La La”, The Fugees “Oh La La La”, Messiah “Uh La La”, The Faces “Ooh La La”, hingga Rod Stewart “Oh La La”. Sangat mungkin jika pemilihan judul “U La La” selain sebagai sarkasme terhadap kemalasan gitaris mereka, Rizky Varama

dalam mengasah bakatnya, alasan lainnya adalah karena kemudahan dalam pengucapannya sehingga tidak terlalu ribet dengan judul yang terlalu serius.

Dalam beberapa pertemuan dengan Dally beberapa waktu ke belakang, ia sempat mengeluhkan kondisi usianya dan personel lain di Muchos Libre yang mulai menanjak. Hal tersebut berdampak pada performanya saat tampil di panggung yang kadang terlihat kelelahan menghajar mikrofon sendirian. Sehingga perlulah kiranya Orange Cliff dan Stuc Records menggaet endorsement perusahaan jamu pegal linu dan obat kuat agar Muchos Libre tak cepat kendor saat tampil di atas panggung. Selamat rilis, Muchos. Kami ingin melihat kalian terus bergulat seperti kredo yang kalian yakini, in surf we trash, in stage we wrestle! Mari buktikan, bung.

Penulis : Edi Sutardi ( @edisudtardi )

Art Work : Dwikyka

Tags
Show More

Related Articles

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker
%d bloggers like this: