Interview

Daramuda: Kami akan Manggung Ketika Sudah Siap

Daramuda merupakan sebuah proyek musik kolektif yang melibatkan tiga orang musisi perempuan, yaitu Rara Sekar, Danilla Riyadi, dan Sandrayati Fay. Masing-masing sudah punya rekam jejak tersendiri di industri musik Indonesia.

Daramuda terbentuk pada Agustus 2017, yang merupakan proyek dari gitar Secco. Dalam satu tahun, Daramuda Project sudah merilis enam musik video di channel YouTube mereka, Daramuda Project.
Gelaran Folk Musik Festival 2018 ini dirasa menjadi momen special. Terlebih lagi kehadiran Daramuda Project yang dimana acara tersebut menjadi panggung perdana mereka dalam format grup. Keberadaan Rara Sekar, Danilla Riyadi, dan Sandrayati Fay menjadi daya tarik sendiri untuk ditonton dengan seksama.

Sesaat sebelum Daramuda naik pentas, Rock Stage Journal mendapatkan kesempatan untuk berbincang dengan ketiga dara ini. Insan Kamil pun berbincang bersama mereka tentang segala proses pertemuan dan santainya mereka dalam menjalani project ini.

Bisa diceritakan bagaimana awal mula Daramuda terbentuk? Kenapa harus Danilla, Rara, dan Sandra?

Danilla: Ya kala itu ada Friendster dan kita saling isi testimoni. (Candanya) Ketemunya? Beuh kita punya tiga versi yang berbeda mungkin.

Sandra: Pada awalnya kita main gitar Secco, kita semua senang bermain gitarnya, dan kemudian ada proyek untuk membantu promosi gitar Secco.

Rara: Ya, jadi awalnya kita hanya posting kalau kita pakai gitar Secco, terus Secco ada inisiatif buat bikin proyek, “Eh, coba dong rekam-rekam lagu musisi yang pakai gitar Secco, dan kita ada di antara musisi-musisi itu.” Pada akhirnya enggak tau gimana, perempuan-perempuan yang main gitar Secco dibuatkan kompilasi gitu, enggak tau juga kenapa kita bertiga yang terpilih.

Danilla : Iya, awalnya sih kompilasi, cuman karena akhirnya banyak menghabiskan waktu bersama jadinya malah kolaborasi.

Rara: Saat itu pun pertemuannya sebentar-sebentar, terus kita pisah, karena aku juga waktu masih tinggal di New Zealand, Sandra di Bali, sedangkan Danilla di Jakarta, jadi sebenarnya ini project woles.

Sejak awal terbentuk, apa yang sudah direncanakan oleh Daramuda?

Danilla: Ehm, sebenarnya kalau direncanakan sih enggak, karena sampai detik ini pun kita belum siap. Cuma, karena kita bertiga pada dasarnya kebetulan sama-sama suka main gitar, jadi ada satu benang merah yang bisa digabungin. Walaupun referensi musik kita berbeda-beda.

Rara: Awalnya mungkin cuma pengin bikin kompilasi itu selesai. Cuma karena sering ketemu akhirnya menemukan kecocokan dan kita memiliki kesenangan yang sama di luar music. Mungkin karena itu juga jadi muncul ahrapan-harapan baru, walau engga muluk-muluk juga sih. Buat seru-seruan aja.

Apakah merilis materi single satu per satu merupakan strategi tersendiri untuk Daramuda?

Danilla: Jadi, kalau video yang masing-masing keluar dari Daramuda itu sendiri buat menunjukan kalau kita suka sama produk gitar ini, instrumennya dirasa sangat cocok untuk dikawinin dengan alam. Deni Kochun yang juga perwakilan dari Secco bilang ke kita bertiga kalau kita bisa nyediain dua lagu untuk ngeluarin sound gitar berbeda dari orang yang berbeda. Dari situ kita jadi punya lagu masing-masing.

Apa hal spesifik yang menjadi bagian dari proses kreatif dalam penggarapan karya-karya dari Daramuda?

Sandra: Sebenarnya kita fokus pada masing-masing aja, karena waktu itu juga belum ketemu dan belum ada obrolan secara spesifik. Hanya saja ada lagu-lagu kita yang memiliki hubungan dengan isu-isu sosial, alam, dan kehidupan yang memiliki benang merah.

Rara: Kayanya enggak ada yang direncanain kalau Daramuda harus begini atau begitu, justru lebih ke instrumen gitarnya. Pas udah jadi ternyata malah ada kemiripan tema.

Sandra: Prosesnya organik banget, mengalir begitu saja

Rara: Mungkin yang spesial atau treatment yang paling utama adalah kita bikin lagu yang bener-bener nunjukin diri kita sendiri.

Bagaimana respon audiens saat tau kalian ada di dalam project Daramuda ini?

Danilla: Kita belum pernah manggung, tapi mereka sudah massive attack dan sangat antusias ke kita, kaya gini “anjiir horny banget nih nonton daramuda”, padahal kita juga gimana ya, berawal dari yang enggak punya rencana sama sekali. Ada takutnya juga, kita takut mereka memiliki ekspektasi yang terlalu tinggi.

Rara: Responnya sangat positif, bukan hanya dari kalangan netizen, dari temen-temen sesama musisi juga lumayan support, seperti nanyain soal gimana project kita. Walaupun di sisi lain kita ngerasa ada enggak siapnya juga.

Danilla: Kita nya masih asik main.

Kenapa memutuskan untuk tampil perdana di ajang Folk Music Festival ini? Apa ada alasan khusus?

Sandra: Sebenernya ada suprisenya juga, berhubung aku main, dan danilla juga main. Aku main lebih awal di rundown, awalnya hanya main satu lagu saja di set terakhir aku, dan setelah wacana itu jadi lahir ide-ide baru.

Rara: Sebenenya karena mereka manggung dua-duanya, terus aku mikir, bolehlah aku sekalian nonton dan belum pernah juga ke acara Folk Music Festival. Awalnya sih pengin ngasih kejutan aja, enggak untuk dikasih tau ke orang, tapi akhirnya malah jadi set sendiri.

Ketika Daramuda dihadirkan ke publik, mereka dikagetkan dengan keberadaan Rara, karena belum lama itu Banda Neira diberitakan bubar. Bagaimana tanggapan Rara sendiri dalam menyikapinya?

Rara: Tanggapannya sih biasa aja. Hahaha, ya baik-baik saja. Enggak ada hubunganya antara Banda Neira memutuskan untuk bubar, karena semuanya sudah bulat. Dan setelah itu pun enggak memutuskan untuk berhenti bermusik, karena Ananda juga setelah dari Banda Neira masih tetap bermusik. Kalau aku sih, karena fokusku sudah bukan di musik saja, ada fokus-fokus untuk kehidupan yang lain. Musik jadi satu per sekian bagian dari hidupku. Kebetulan aku suka banget sama project Daramuda ini, karena memperbolehkan musisinya menjadi dirinya sendiri, sepenuhnya, dan memiliki semangat berkarya yang santai tapi serius. Aku juga belum pernah bekerja dengan orang-orang yang isinya perempuan semua. Menurut aku, hal itu juga menjadi sesuatu yang seru banget untuk dieksplore. Kita pun menjalani semuanya dengan selow dan hanya akan memilih panggung ketika kita memang mau dan siap.

Melihat perkembangan festival music folk dan musik folk itu sendiri, sebagai pelaku di skena ini bagaimana membuat skena ini tetap substain?

Danilla: Sebenernya mau ada festival music folk atau FMF ini musik folknya sendiri akan terus berkembang. Cuma mungkin orang yang bikin musik folk itu sendiri seperti memiliki kamar khusus di festival musik ini. Banyak yang tidak ragu lagi untuk membuat musik folk. Festival ini juga salah satu festival yang enak juga, tempatnya sangat mendukung untuk menyaksikan musik-musik folk.

Setelah ini, apa rencana kedepannya?

Rencana kedepannya menjalani project ini dengan selow.

Tags
Show More

Insan Kamil

Music Photographer est 2016 - life in passion.

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker
%d bloggers like this: