Stage Review

Limunas XV: Orang-orang yang Berbahagia di Kerumunan

Apakah hujan itu berkah?

Pertanyaan itu seketika muncul di kepala. Suka tak suka, aku berada di pihak yang menganggap hujan itu berkah. Mungkin di pelosok sana ada yang bahagia dengan turunnya air dari langit, dan mungkin di pelosok lainnya ada yang mengutuk datangnya air dari langit.

Eh, aku tidak sedang membuat tulisan tentang hujan dan segala filosofis yang menyertainya. Aku hanya akan menulis tentang Limunas XV yang digelar pada 1 Desember 2019 di IFI Bandung. Maklum malam itu hujan turun ketika akan berangkat pergi nge-gigs.

Setelah mempertimbangkan beberapa hal, seperti jika harus menggunakan transportasi umum, nampaknya akan lama mencapai tempat. Ditambah perkiraan acara akan selesai larut malam dan harus menggunakan ojek online untuk pulang, maka akan tidak bersahabat dengan kondisi keuangan yang tak stabil. Alhasil, aku lebih memilih menunggu hujan reda agar bisa membawa motor sendiri saja.

Intensitas hujan mulai menurun hingga akhirnya tersisa gerimis saja. Aku memilih untuk hajar saja karena akan semakin lama kalau menantikan hujan sepenuhnya berhenti. Sepanjang jalan ternyata hujannya tak rata. Ada sebagian jalan yang nampak tak basah. Tak apa, yang penting pulang aman.

Sampai di tempat ternyata The Panturas masih di atas panggung dan “Queen of the South” baru akan mereka bawakan. Penonton ternyata cukup ramai meski masih banyak ruang kosong, sehingga tak perlu berdesakan. Tata panggung sebenarnya cukup sederhana, namun segi lighting lah yang membuatnya menjadi mewah. Konon katanya, pengaturan lighting malam ini diatur berdasarkan lagu. Sehingga setiap lagu akan berbeda pula lightingnya. Maka, ketika melihat tim lighting bekerja, dia juga memegang setlist. Amazing!

Setelahnya, mereka memainkan lagu baru yang belum direkam. Sebuah lagu instrumental yang nampaknya memang harus mereka miliki agar menjadi semakin sah menjadi band surf-rock. Menariknya, lagu baru ini ternyata tidak masuk ke dalam setlist The Panturas malam itu. Jadi, total mereka memainkan 12 lagu.

Limunas kali ini menggunakan system clearing area. Seluruh penonton diminta untuk keluar dari area indoor setelah band selesai tampil. Di luar tersedia area booth merchandise dari band-band penampil dan tentu saja kaos official untuk pagelaran Limunas kali ini. Beberapa orang memilih untuk sekadar duduk atau pun membuang hajat. Aku pun secara tak sengaja bertemu teman yang ternyata dia datang sendiri. Yeay ada teman!

Setelah band siap, baru lah penonton diperbolehkan masuk lagi ke dalam venue. Penonton langsung disambut dengan lighting berwarna merah. Pemilihan warna yang sangat diperhatikan oleh tim lighting karena FSTVLST yang banyak menggunakan unsur warna merah dalam beberapa artworknya.

Terasa kalau kerumunan penonton semakin ramai dan padat. Ternyata banyak juga yang menantikan mereka di sini. Sepanjang 15 tahun berkarier, baik sebagai Jenny ataupun FSTVLST, mereka belum pernah manggung di Bandung. Malam itu, untuk pertama kalinya mereka tampil di Bandung.

Alunan piano yang dimainkan oleh Rio Faradino pun mulai terdengar dan tak lama kemudian Farid Stevy pun muncul di atas panggung sambil memegang buku binder. Tak lain dan tak bukan, “Hal-Hal Ini Terjadi” menjadi nomor pembuka malam ini. Namun ternyata sajak yang berada dalam lagu tersebut tidak dibawakan penuh. Di tengah-tengah pembacaan sajak, Farid Stevy meminjam HP salah satu penonton untuk membuka akun Instagram Teh Boit. Seluruh penonton sedikit kebingungan karena apa pentingnya membuka akun Teh Boit di tengah-tengah lagu?

Ternyata, dia membacakan postingan Teh Boit yang berisi curhatan tentang Limunas. Tentu dibacakan ala Farid. Ketika membacakan bagian ”pilihan bandnya dipertanyakan” spontan saja Farid menyanyikan penggalan lirik dari band yang dimaksud dan mengajak penonton untuk turut bernyanyi bersama. Setelahnya, Farid pun membacakan keseluruhan postingan tersebut dan melanjutkan keseluruhan lagu, lengkap bersama personel FSTVLST lainnya.

Ada untungnya saya berada di bagian belakang dekat dengan FOH, karena ketika semua penonton tertuju ke panggung, Teh Boit ternyata menangis bahagia dan langsung memeluk sang suami, Mas Tri yang berada di belakang. Ah, seandainya ada yang mengabadikan momen indah ini. Saya pun tersenyum bahagia melihat momen ini.

Di lagu “Hujan Mata Pisau”, Teh Boit ternyata naik ke atas panggung dan membalas “perlakuan” Farid sebelumnya dengan memeluknya di atas panggung dan diakhiri dengan stage diving ke arah penonton. Memang sangat jarang bisa melihat wanita melakukan stage dive, tapi tidak di acara Limunas. Karena ketika Melbi datang ke bandung pun, Teh Boit juga melakukannya. Pria mau pun perempuan bisa melakukan stage dive dengan aman di acara ini!

Malam ini FSTVLST mencoba untuk mengcover beberapa lagu. Farid nampak bingung ketika ingin mengcover lagu apa dan bertanya ke penonton sebaiknya lagu apa yang dibawakan. Tanpa aba-aba, Humam Mufid Arifin (bass) langsung memainkan intro “Ace of Spade” dari Motorhead. Sayangnya lagu ini batal karena gitaris mereka, Roby Setiawan, ternyata tidak hafal lagunya. Ketika bingung ingin memilih lagu lain, seketika saja Roby memainkan intro lagu “Last Nite” dari The Strokes. Namun kali ini Danish Wisnu Nugraha (drum) tidak hapal lagunya. Setelah di-brief sedikit, mereka kembali memainkan “Last Nite”. Tentu saja tidak secara penuh, selain karena Farid tidak hapal liriknya tapi  juga karena mereka akan mengcover lagu lain, yaitu lagu “Gas Gas Gas” dari Kill The DJ/Marzuki Muhammad.

Tak bisa disangkal, ternyata menonton FSTVLST menarik juga. Memang saya tak hafal banyak lagu mereka, namun penampilan Farid layak untuk ditunggu. Baik ocehan maupun stage act sangat layak untuk dinantikan dalam setiap panggungnya. Contohnya pada lagu “Matimuda”. Seperti biasanya, Farid akan mengarahkan seluruh michrophone ke arah penonton dan mempersilakan penonton untuk berkaraoke massal di lagu tersebut.

Namun setiap mic telah diarahkan ke penonton, Farid membuat gesture seperti orang yang berterima kasih dengan mensidekapkan kedua tangan di depan dada dan sedikit membungkuk ke arah michrophone. Pemandangan yang menakjubkan dari seorang vocalist ke michrophone. Bahkan ketika salah seorang penonton mencoba untuk mengambil mic dari stand mic, Farid melarangnya. Mungkin agar yang terdengar adalah koor masal dari penonton, bukan hanya dominasi salah satu suara penonton.

Bisa dibilang “Matimuda” merupakan lagu terakhir. Karena setelahnya, lagu “Menantang Rasi Bintang” dimainkan secara playback oleh FOH. Para penonton pun dengan segera naik ke atas panggung untuk berjabat tangan ataupun berpelukan dengan para member dari FSTVLST, bahkan Farid pun diarak oleh penonton mengitari venue. Suasana yang penuh kekeluargaan!

Sama seperti sebelumnya, penonton digiring untuk keluar dari area indoor agar penampil selanjutnya bisa mempersiapkan alat terlebih dahulu. Tak berapa lama ternyata diadakan pemutaran video klip teranyar dari The Flowers yang berjudul “Roda-Roda Gila”. Bisa dibilang pemutaran ini adalah yang pertama kali karena belum diunggah di YouTube. Berbahagialah bagi mereka yang datang ke Limunas ke XV!

Berbeda dengan FSTVLST, ketika masuk kembali ke area indoor, para personel The Flowers sudah lengkap di atas panggung dengan alatnya masing masing. Tak lama kemudian, “Tong Sampah” pun dimainkan. Penonton berjingkrakan dan ikut bernyanyi bersama.

Satu hal yang menarik adalah jumlah penonton berkurang sangat drastis. Penonton yang bertahan hanyalah segelintir saja, kebanyakan adalah golongan tua dengan baju The Flowers. Mungkin banyak yang meninggalkan venue karena mereka tidak terlalu mengetahui The Flowers. Sungguh sangat disayangkan karena banyak hal menarik yang terjadi di panggung malam ini. Bisa dibilang bahwa yang sangat dinantikan malam ini adalah FSTVLST. Secara kuantitas boleh berkurang, namun secara kualitas berani diadu!

Banyak kejadian yang terjadi di atas panggung. Seperti ketika lagu “Tuhan Ikut Bernyanyi” dimainkan, Njet (Vokal) lupa lirik. Dia pun meminta maaf kepada penonton dan mengulangi kembali lagu tersebut kembali setelah bertanya kepada Boris (gitaris) mengenai liriknya. Contoh lainnya adalah ketika akan memainkan lagu “Roda-Roda Gila”, single dari album terbaru mereka yang berjudul “Roda-Roda Gila”.

Boris dengan segera menyetop personel lainnya karena dia masih menyetem gitarnya. Setelah Njet kehabisan kata dan Boris sudah selesai stem juga, mereka mengajak seluruh penonton untuk Cheers sebelum memainkan lagu. Aura rockstar Njet sebagai sang vocalist memang sangat terasa. Tak perlu banyak ucap di antara jeda lagu, aura rockstar tak mengendur dalam dirinya.

Hal lucu terjadi menjelang akhir-akhir set. Boris sudah memulai intro lagu rajawali, namun ternyata Njet malah berteriak “Tolong bu dokter” yang mana merupakan intro dari lagu “Tolong Bu Dokter”. Tak hanya penonton yang tertawa dibuatnya. Setelah berembuk, mereka akhirnya memilih untuk memainkan “Tolong Bu Dokter” terlebih dahulu. Di tengah lagu, Eugene Bounty menantang Citra Alifia Warnerin (vokal latar) untuk saling duel. Jika Eugene menggunakan Saxophone-nya, maka Citra melakukan Scat Singing sebagai lawannya. Adegan yang terasa sureal terjadi di depan mata.

Sesaat sebelum lagu selanjutnya dimainkan, Njet mengajak Doddy Hamson, vokalis Komunal, untuk berduet menyanyikan lagu “Nggak Ada Matinya”. Doddy nampak girang sekali karena merangkul Njet berkali-kali di atas panggung. Energi tersebut nampaknya terpapar ke Vian (bass). Sepanjang penampilan malam ini dia tampil dalam keadaan duduk, namun pada lagu ini dia berdiri. Pada versi rekamannya, lagu yang terdapat di album perdana mereka, “17 Tahun Ke Atas”, berduet dengan Kaka Slank. Tentu saja, malam ini Doddy bernyanyi dengan caranya sendiri yaitu growl.

Seharusnya, “Nggak Ada Matinya” menjadi lagu terkahir. Namun penonton berteriak “We Want More!” terus menerus dan bahkan Doddy yang masih berada di atas panggung pun memohon dengan menggunakan mic kepada The Flowers untuk memberikan 1 tambahan lagu. Setelah berembuK, mereka pun sepakat untuk memberikan 1 lagu tambahan. Lagu tambahan tersebut adalah “Belum 17”.

Sama seperti apa yang Teh Boit tulis di salah satu postingannya, “ … karena seperti kawan kami bilang kemarin, music adalah relasi sosial dan Limunas jadi tempat bermain yang menyenangkan.”

Bagi saya pun seperti itu. Limunas adalah tempat bermain yang menyenangkan, penuh rasa intim dan kekeluargaan, serta aman untuk berekspresi. Tak sabar menantikan perhelatan Limunas selanjutnya.

Penulis : Armand Muttaqin

Tags
Show More

Related Articles

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker
%d bloggers like this: