Stage Review

Agterplaas Concert Bandung, Timur yang (tetap) Konservatif

Setelah sekian lama, The Adams akhirnya kembali mentas di Bandung dengan format paling intim, konser. Konser tersebut sekaligus jadi perayaan rilis album penuh terbaru The Adams di Kota Kembang, setelah 13 tahun lamanya absen tanpa album baru. Agterplaas sendiri rilis pada 16 Maret silam di bawah naungan Belakang Teras Records. Helatan kali ini merupakan inisiasi dari Maritime Records yang mulai “berlayar” kembali di kancah lokal setelah sekian lama hiatus. Agterplaas Concert Bandung diselenggarakan di Institute Francais Indonesia, jalan Purnawarman, Bandung. Sabtu (14/12/19).

Sebenarnya, The Adams sendiri hanya “mendekati mitos” jika mengutip apa yang Aryo (vokalis) katakan di panggung, pasalnya mereka masih sering wara-wiri di banyak panggung Ibukota atau beberapa festival. Namun, kehadiran album Agterplaas tentu menjadi penebus rindu para penggemar unit power pop yang berangotakan Aryo Hendrawani (vokal,gitar), Gigih Suryoprayogo (dramer), Pandu Fuzztoni (bas), Saleh Husein (gitar) dan kini diperkuat Gina (keyboardist) yang menggantikan Retiara Haswidya Nasution yang berpulang pada Januari tahun lalu, setelah satu dekade lebih tidak merilis album.

Pada konser kemarin, penampilan yang mereka suguhkan terbilang tidak biasa. Set pertunjukan yang panjang, mereka bagi dalam dua bagian. Materi dalam album Agterplaas mereka kebut di bagian pertama. Sisanya campuran dari materi album debut dan sophomore mereka. Yang menyenangkan, tak sedikit penonton yang hadir bersahutan di banyak materi baru mereka. Meski banyak juga generasi lama yang setia menanti materi-materi dua album lama mereka yang kini berusia lebih dari 10 tahun.

“Pelayaran” Maritime

Pada Agterplaas Concert Bandung, selain hajatan milik The Adams, tentu jadi salah satu “pelayaran” terbaru dari Maritime Records. Setelah sukses dengan dua acara sebelumnya, pada konser kali ini mereka turut menyertakan satu roaster mereka yaitu Eyesun dan band yang sudah lama bekerjasama dengan mereka, Astrolab. Eyesun sendiri baru saja merilis single perdana mereka bertajuk “Feel Something” yang segera disusul dengan debut EP mereka. Sementara Astrolab sendiri bukan nama baru di kota Bandung, mereka telah merilis album perdana “The Blue Thread Saga” pada 2008 silam bersama Maritime, kemudian EP mereka “Poor Trendy Boys” dirilis oleh Duffecoat Records asal London, Inggris.

Penampilan keduanya sangat mencuri perhatian. Astrolab didapuk sebagai penampil pertama, disusul oleh Eyesun. Meski sedikit ngaret, mereka berbagi waktu masing-masing setengah jam penampilan. Beberapa terlhat bingung dengan musik yang mereka hadirkan. Mungkin terlalu berisik untuk ukuran sebuah sajian indiepop. Alih-alih gaya jangly–guitar pop, keduanya menghadirkan banyak noise dan reverb yang berlapis, serta nuansa shoegaze yang kentara. Keduanya membuka konser dengan pas dan menghangatkan suasana yang sedari sore diguyur hujan deras. Materi rilisan mereka juga patut ditunggu kehadirannya. Menjanjikan!

Menuju Timur dan Tetap Konservatif

Setelah menyaksikan dua penampil awal, nampaknya penonton enggan beranjak. Mengatur posisi untuk mendapatkan pandangan senyaman mungkin. Visual pada konser kali ini juga sangat simple, tanpa banyak perintilan namun tetap berkesan. Tak lama berselang, para personel The Adams mulai mengambil posisi masing-masing dan memainkan “Agterplaas” nomor instrumental yang juga menjadi nomor pembuka di album mereka.

Malam itu sejumlah lagu baru dari album Agterplaas pun dibawakan di set pertama, termasuk beberapa single yang sudah terlebih dahulu dirilis, seperti “Pelantur” yang memancing koor massal sejak awal. Pada album teranyar The Adams, mereka banyak memberikan sentuhan synth dan sound drum dengan nuansa 80-an. Meski secara nuansa berbeda dari album sebelumnya, secara komposisi, balutan distorsi gitar dan harmonisasi vokal tiga personelnya tetap menjadi ciri “konservatif” mereka yang paling khas.

“Kita ini band menuju mitos, maklum band tua jadi mesti atur napas. Lanjut boy, masih banyak nih lagunya,” kelakar Aryo disela penampilannya.

Menyaksikan mereka dalam format yang paling intim, berupa konser adalah pengalaman auditif yang menyenangkan. Bergabungnya Pandu Fuzztoni (bas) bagi saya pribadi menjadi sebuah aksen yang menarik. Beberapa kali menyaksikan mereka, selain presisi, sound yang mereka hasilkan selalu prima. Termasuk konser kemarin. “Lingkar Luar”, “Pesona Persona”, hingga “Sinar Jiwa” mereka bawakan berturut-turut dengan sedikit jeda. Pada lagu “Dalam Doa”, malam itu The Adams khusus mendedikasikannya bagi kawan-kawan dan warga Tamansari yang baru saja mengalami penggusuran.

“Lagu ini kita persembahkan untuk warga Tamansari yang terkena penggusuran, atas nama kemanusiaan,” ujar Saleh Husein.

Sedikit tampak diburu waktu, mereka menyelesaikan set pertama dengan “Gelap Malam”, “Esok”, “Timur” dan “Masa-Masa” secara berurutan. Dua lagu terakhir di set pertama ini mungkin jadi salah dua koor massal paling meriah. Sekira 300-an penonton yang hadir saling bersahutan merapal:

Namun tiap kudengar namamu / Makin terbayang masa depanku / Semakin jelas tujuan / Dan yang ku harus lakukan dengan lantang. Lagu tersebut menjadi penutup set Agterplaas pada malam itu.

Setelah jeda dan berganti kostum, mereke kembali naik panggung dan ber-accapela dengan “Berwisata”. Lagu tersebut menjadi penanda bagi set kedua yang diisi materi-materi lama dari album self-titled mereka dan V2. 05. Tanpa banyak basa-basi “Waiting” dan “Selamat Pagi Juwita” mereka hadirkan untuk mengajak seisi ruangan berjingkrak kegirangan. Menariknya, pada set kedua kali ini, nyanyian massal terdengar lebih kencang dari barisan belakang yang tampak diisi oleh penggemar mereka yang lebih “berusia”.

Salah satu yang jadi kejutan adalah “Just” yang jarang sekali mereka bawakan secara langsung. Tak sedikit raut bahagia hadir dari penonton malam itu. Sebagai catatan, lagu “Just” versi akustik juga di cetak dalam format cakram padat pada Record Store Day 2018 lalu, dan dinyanyikan ulang oleh Pandu. Seisi ruangan memang terasa makin panas, bukan saja karena “Konservatif” dimainkan, namun pendingin ruangan di auditorium IFI agaknya memang kurang besar untuk jumlah penonton yang cukup padat malam itu. Selain menjadi satu lagu yang ditunggu “Konservatif” agaknya memang lagu yang cukup tertanam di memori kolektif banyak orang yang hadir malam itu. Sisanya, “Kau Di Sana”, “Hanya Kau” dan “Halo Beni” menutup konser mereka di Bandung.

Mendengarkan, terlebih menyaksikan The Adams memainkan set Agterplaas adalah pengalaman konser yang menyenangkan. Enerjik, presisi, dan tetap manis di banyak sisi. Jika banyak orang bilang mereka lebih dewasa di album ini, itu sesatu yang menyebalkan bagi saya. Konteks pendeewasaan dalam musik adalah bias. Bagi saya, mereka berproses, merekam ingatan dan merespon realitas di sekitar sesuai dengan zaman nya. The Adams boleh jadi berjalan jauh menuju ke Timur, namun rasa khas yang membekas bagi sebagian orang tetap sama; konservatif dalam arti sebaik-baiknya.

Penulis : Irfan Nasution (@visualbanal)

Foto : Insan Kamil (@insankamil_)

Tags
Show More

Related Articles

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker
%d bloggers like this: