Rock Updates

10 Album Lokal Favorit Sepanjang 2019

Pada dasarnya tidak ada kewajiban untuk membuat daftar rilisan dengan berbagai predikat di akhir tahun. Semua tak lebih dari sekadar berbagi kebahagiaan dan referensi. Selebihnya? “Demi Konten”, karena menangkap semangat dan fenomena zaman, kini, adalah sesuatu yang organik. Oleh karenanya, seperti tahun-tahun sebelumnya, kami dari tim redaksi Rock Stage Journal akan membagikan daftar rilisan-rilisan favorit versi kami sepanjang tahun 2019. Isinya beragam, tak terbatas jenis musik. Semua atas dasar kegemaran pribadi. 

Dua tahun belakangan (2018-2019) ini menarik bagi ekosistem musik nasional. Baik dari sisi pendengar mau pun musisi itu sendiri. Selain disrupsi politik presidensial berkepanjangan, kegaduhan RUU Permusikan pada awal tahun 2019 nyatanya menjadi pemantik geliat ekosistem musik di Indonesia. Dengan segala macam kegaduhan perihal RUU Permusikan, akhirnya hal tersebut memaksa hampir semua yang terlibat dalam ekosistem mengambil tindakan. 

Ada yang bersungut-sungut dengan amarah di platform sosial media, ada yang berkumpul melakukan riset tandingan dan menempuh jalur lebih santun, serta ada yang tetap percaya untuk tidak berkompromi dengan “pemerintahan”. Sisi baiknya, terlepas dari preferensi sikap dan keberpihakan, banyak karya yang hadir di tahun 2019. Terkikisnya batas arus utama dan pinggiran, pun perihal musisi tua–muda. Semua terpacu untuk makin produktif dan menghasilkan karya yang mumpuni. Serta, yang paling penting minat konsumsi rilisan fisik dan merchandise musisi atau band yang masih terjaga baranya. 

2019 bisa jadi tahun yang lumayan produktif dalam satu dekade terakhir. Mengingatkan kita pada medio 2001-2004 dimana gelombang pertama musisi dan label-label independen skala “rumahan”, merilis banyak karya yang kemudian menjadi cetak biru bagi industri di tahun-tahun berikutnya. Penghujung 2019 juga menjadi penanda transisi konsumsi para penikmat musik. Sok-tahu-nya kami, bisa jadi hegemoni internet dengan segala macam mediumnya, khususnya, platform streaming dalam ekosistem musik sedang berada pada puncaknya. Meski tentu kita tak pernah sepi rilisan fisik, walau jumlah dan hitung-hitungan ekonomisnya tak sebanding jika di adu dengan industri platform digital.

Pro-kontra rilisan fisik dan digital bukan hanya dua tahun kebelakang saja menghangat. Perubahan pola konsumsi musik sudah terjadi jauh sebelumnya, mungkin satu dekade terakir. Menikmati musik adalah pengalaman personal. Tak mungkin serupa setiap individu. Rilisan fisik menghadirkan pengalaman “sentuhan” fisik secara langsung dan perihal analog lainnya. Tapi kehadiran internet juga membuka cakrawala dan manghapus sentralisasi serta dominasi “musik” ibu kota. Kini kita tahu ada Pangalo! emcee dengan kualitas flow dan rima yang dahsyat asal Parapat, Medan. Kemudian ada unit post-rock menghanyutkan asal Jambi bernama Semiotika. Tak ketinggalan Theory Of Discoustic yang mencuri perhatian dari timur Indonesia.    

Pada akhirnya kami memilih beberapa album favorit menurut versi kami. Album-album yang memenuhi ruang memori kolektif kami sepanjang 2019. Memberikan keterikatan emosi personal tiap kali mendengarnya, juga memberikan pengalaman artistik yang selalu membuat kami berdecak kagum tiap kali menyimaknya. Patokannya tak muluk-muluk, nyaman di telinga kami dan eye-catchy di saat bersamaan tiap kali kami memandangi cover albumnya. Berikut adalah 10 album favorit piliha redaksi rock stage journal yang disusun sesuka hati kami: 

Gabber Modus Operandi  HOXXYAA

Nama ini belakangan mencuat di jagat musik elektronik tanah air. Setelah hadir mengguncang dengan Puxxximaxxx  yang dirilis Yes No Wave Music pada 2018 lalu, duo produser musik cum seniman kontemporer Ican Hareem dan Kasimyn kembali merilis Hoxxyaa. Mereka juga sempat mentas di beberapa festival di Eropa hingga eksposur dari Broiler Room. Pada 2019, dan album terbaru mereka menjadi pelengkap katalog rilis dari Svbkvlt, label asal Sanghai, RRC. Jika pada album sebelumnya di dominasi dengan gamelan Jawa-Bali yang beradu dengan hardcore-techno, serta sisipan mistis—trance–kesenian Jathilan, kali ini mereka mengeksplorasi dangdut koplo. Album ini membenturkan elektiknya dangdut koplo, bisingnya noise dan gabber itu sendiri, serta dentum beat yang selalu berada di atas 200 BPM. Album menyenangkan dengan nuansa lokalitas yang “genit”, dan mestinya menjadi pemantik bagi komunitas musik elektronik tanah air. 

Mantra Vutura – Human

Setelah sebelumnya merilis mini album Solar Labyrinth 2017 lalu, duo elektronik Mantra Vutura kembali hadir dengan album baru pada Oktober lalu. Tristan dan Zakari merilis debut album penuh bertajuk Human. Album ini nampaknya sebuah pertaruhan, di album perdana, mereka menggaet sederet kolaborator. Album dengan penuh kolaborasi biasanya akan menemui dua pilihan, menjadi terlalu “banyak rasa” atau memang menjadi album yang baik karena kolaboratornya mengisi porsi dengan pas. Namun, Human nyatanya memilih pilihan pertama. Seperti “Moonlight” yang menghadirkan Bam Mastro (Elephant Kind) dan juga “Biar”, yang cukup syahdu dengan Danilla. Musisi lainnya yang teribat dalam album adalah Luise Najib dalam “In Your Eyes”, Agatha Pricilla engan “Peace of Mind” dan tentunya Elda Suryani dari Stars & Rabits yang memberikan warna pada nomor “Bank of River.” Album berisikan 10  trek ini hadir dengan “cukup” tanpa banyak rasa dan memberikan nuansa baru jika kamu merasa kalau musik yang belakangam kamu dengar itu-itu saja. 

Bilal Indrajaya – Purnama

Pertama kali mendengar debutnya, yang kami rasa adalah nuansa Beatles-esque dan Dewa 19 formasi gemilang. Irisan referensi dari kedua band tersebut begitu terasa. Nyatanya selain memang Bilal Indrajaya memiliki sesi reguler Beatles tiap minggunya di kawasan Kemang, produser musik EP Purnama ini adalah Vega Antares, yang juga menjadi bagian dari Dewa 19. Menyimak 6 trek dalam mini albumnya, salah satu yang menjadi highligt adalah vokal tamu Vira Talisa di nomor “Lagu Cinta Untuk Dunia”, menyegarkan. Bilal sendiri, bagi kami, menjadi penyegaran di antara solois lainya yang lebih cenderung crooner dan dekat dengan nuansa jazz, ia pengecualian. Menikmati Purnama sama halnya menikmati “Strawbery Fields” milik The Beatles dengan rasa lokal milik Dewa 19. 

Hindia – Menari Dengan Bayangan

Hindia hadir membuka debutnya lewat single ‘Evaluasi’ pada bulan Mei 2019. Tanpa perlu banyak gimmick, single tersebut melesat sekaligus membawa nama Hindia semakin dikenal. Beberapa lama berselang, Hindia produktif merilis single demi single seperti ‘Secukupnya’, ‘Tinggalkan Di Sana’, ‘Jam Makan Siang’, ‘Belum Tidur’, ‘Membasuh’ hingga ‘Dehidrasi’. Ketujuh single tersebut dimuat dalam debut album Hindia yang diberi tajuk ‘Menari Dalam Bayangan’ yang dirilis pada Desember 2019. 

‘Menari Dalam Bayangan’ berisikan 15 trek dengan beragam tema yang bisa dibilang memuat perjalanan hidup seorang Baskara Putra, frontman Hindia yang juga vokalis dari grup band .Feast. Jika Baskara lebih cenderung membuat lagu dengan lirik berbau kritis bersama .Feast, namun dengan Hindia, Baskara bersikap lebih lembut, terbukti dengan trek-trek yang dihadirkannya yang jauh lebih easy listening. Lagu-lagunyasangat bisa menjadi teman penghantar tidur atau sekadar menemani setiap lamunan. 

Kehadiran album ‘Menari Dalam Bayangan’ sayang untuk tidak dimasukkan ke dalam deretan album favorit versi Rock Stage Journal.

Lair – Kiser Kenamaan

Nama mereka mungkin belum terlalu besar gaungnya, namun unit folk asal Jatiwangi, Jawa Barat ini hadir dengan debut menjanjikan. Kiser Kenamaan yang berisikan 7 nomor eksotis ini menjadi sajian baru menikmati musik alternatif lokal. Terlepas dari formula folk yang “aman” balutan melodi-melodi kiser yang mereka hadirkan dari budaya tarling khas Cirebonan, patut diapresiasi. Mereka menawarkan nuansa berdasarkan pengalaman hidup di pesisir pantai utara. ” Pantura Soul” salah satu nomor yang mewakili hal tersebut. Kolektif musik yang digawangi oleh Tedi En (vokal dan gitar melodi), Andzar Agung Fauzan (vokal dan bas), Ika Yuliana (vokal), Tamyiz Noor (vokal), Kiki Permana (tamborin dan perkusi) dan Pipin Muhammad Kaspin (vokal dan gitar) juga merepresentasikan dari mana mereka berasal melalui alat musik genteng, selain karena mereka jebolan Jatiwangi Art Factory, daerah Jatiwangi juga dikenal sebagai penghasil genting terbesar di Asia Tenggara. 

Mooner – O.M

Setelah merilis Tabiat pada 2017 silam, unit heavy rock asal Bandung, Mooner, kembali hadir dengan album baru bertajuk O.M. Dengan merekontruksi ulang kompisisi orkes rock melayu dan lirik dengan muatan peribahasa Indonesia menjadikan album ini begitu dekat dengan suasana melayu. Vokal mengayun Marshella Safhira dan riff-riff  besutan Absar menjadi perpaduan yang cukup segar. Rock melayu di tangan mereka menjadi sebuah adiksi baru. 

Polka War – Bani Bumi

Jika meminjam istilah dari beberapa reviewer di abum kedua bertajuk Bani Bumi ini mereka berada dalam fase ‘menjadi Indonesia’. Melalui Bani Bumi mereka bereksperimen secara lirikal melampaui apa yang tak mereka hadirkan di Axis Mudi. Album yang di produseri oleh Lafa Pratomo ini, menghadirkan dimensi yang berbeda di departemen sound. Kompleksitasnya pun masih berada dalam tahap wajar. Tidak jelimet. Eksplorasi vokal Karaeng Aji nampak lebih bergairah di album ini. Menikmati Bani Bumi secara utuh menghadirkan pengalaman audial yang menyenangkan.

Danilla – Fingers

Tanpa banyak berita, di penghujung 2019 Danilla kembali hadir dengan kejutan. Setelah banyak pendengar album Telisik (2014) hengkang ketika ia merilis Lintasan Waktu (2017) sepertinya ia tak berhenti “menyeleksi” penggemarnya. Danilla menhadirkan sebuah EP bermuatan lima buah lagu bertajuk Fingers. Meski nuansa muramnya tak jauh beda dengan Lintasan Waktu kali ini ia hadir lebih sederhana. Didominasi gitar elektrik dengan berbagai modulasi yang mengawang, nyatanya cukup untuk menghadirkan sosok lain dari Danilla. Secara tema, album ini di penuhi banyak “pertanyaan” yang mungkin cukup personal. Album yang sangat bisa dinikmati ketika mengbiskan sepertiga waktu malam dengan melamun. 

The Adams – Agterplaas

13 tahun berlalu tanpa album, meraka menyambut 2019 dengan gemilang. Agterplaas hadir bukan tanpa aba-aba. Sejak 2018 unit power pop jebolan Tjikini ini hadir dengan single “Pelantur” dan “Masa-Masa”. Pondasi awal bagi album yang bisa disebut menjadi salah satu album terbaik di tahun 2019 ini. Mereka menghadirkan album yang presisi, baik secara sound maupun komposisi. Kehadiran Pandu Fuzztoni, nyatanya berpengaruh besar bagi The Adams. Song writing mereka juga kian mumpuni. Album yang timeless. 

Isyana Sarasvati – Lexicon

Jika ada salah satu musisi yang memang betul menhadirkan kejutan, ia adalah Isyana Sarasvati. Ia tetiba hadir dan membuyarkan imajinasi banyak orang akan dirinya. Beberapa dari kaliam yang sering menyaksikan penampilannya secara langsung, mungkin tidak akan terlalu terkejut dengan album teranyarnya Lexicon. Pasalnya, permaina keytar progresif sering ia sajikan ketika memainkan nomor “Mad”. Album Lexicon ini hadir begitu paradox, memuat 8 trek dan dibuka dengan “Sikap Duniawi”, “Untuk Hati yangTerluka” yang begitu kental dengan nuansa piano a’la scoring Disney, namun dipertenghan pendengar di jejali dengan progressive rock/metal rasa Dream Theatre. Album yang kompleks sekaligus puitik di saat yang bersamaan. Rasanya tak berlebihan jika suati saat menyaksikan ia beradu tuts keytar di panggung festival rock bersama Indra Lesmana Project. 

Honorable Mention :

Parahidup – Dialog Dini Hari

Avhath – The Avhath Rites 

Sssloth – Celestial Verses

Texpact – Spin Your Wheels 

Bloodpact – Self Titled

Tuan Tigabelas – Harimau Soematra

Ardhito Pramono – A Letter To My 17 Year Old 

Suri – Waham

Kompilasi Summer Fest 2019 – Senandung Energi Bumi

Lamebrain – For C.Marlowe

Hursa – Harap dan Tuah

Tags
Show More

Related Articles

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker
%d bloggers like this: